Ladang Perminus

5 Agustus 2009 - 12:55 WIB

Fx Rudy Gunawan

“Di negeri ini, hanya di negeri ini, koruptor bisa menjadi pahlawan!”
Dalam situasi politik yang masih tetap tak bisa menjamin kepastian penegakan keadilan dan kebenaran, berbagai alat negara untuk penegakan pemerintahan yang bersih dan demokratis bisa saja dijungkalkan atau bahkan “dibunuh”, seperti yang kini tengah terjadi pada Komisi Pemberantasan Korupsi. Atau sebut juga misalnya Komisi Pemilihan Umum yang tengah disorot, dicaci, dan dimaki terkait perhelatan demokrasi kita. Lembaga-lembaga negara yang lain pun (Komisi Penyiaran Indonesia, Komnas HAM, Mahkamah Konstitusi, dan lain-lain) tak luput dari situasi yang sama pelik. Padahal persoalan-persoalan yang menjadi tugas dan kewenangan lembaga-lembaga seperti KPK sangatlah besar dan mendasar untuk menata kehidupan yang lebih baik di masa datang. Korupsi, seperti semua orang memahaminya, adalah musuh besar bagi bangsa yang ingin maju dan memiliki kehidupan sejahtera bagi seluruh rakyatnya. Kita tak bisa berpangku tangan dan menerima nasib saja. Apalagi menerimanya sebagai suatu kewajaran.

Pemberantasan korupsi seharusnya menjadi tugas dan tanggung jawab bersama yang bisa menyatukan berbagai perbedaan dari semua komponen masyarakat. Korban korupsi tak membedakan golongan, suku, agama, status sosial, ataupun ideologi tertentu. Rakyatlah yang menjadi korban secara keseluruhan. Rakyat secara keseluruhan adalah bangsa. Karena itulah, sebuah pemerintahan yang korup pasti menghasilkan bangsa yang tertinggal dan miskin. Sayangnya kita kerap membiarkan korupsi merajalela di hadapan kita tanpa berbuat apa-apa. Hanya segelintir kelompok masyarakat, seperti Indonesia Corruption Watch, yang bergerak serius melakukan gerakan perlawanan terhadap korupsi. Tentu saja hal ini menjadi sangat berat jika komponen masyarakat lainnya diam dan hanya berharap ICW atau KPK berjuang mati-matian melawan korupsi. Dukungan kita baru berikan ketika nasib KPK terancam, entah itu dari “Cicak” ataupun elemen masyarakat lainnya. Seharusnya kita bisa memberikan dukungan setiap saat sesuai kapasitas dan bidang kita masing-masing.

Keadaan ini yang kemudian mendorong Perkumpulan Seni Indonesia, Praxis, ICW, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, dan Main Teater melakukan pendekatan berbeda untuk mengampanyekan gerakan melawan korupsi melalui pementasan teater. Tujuan utama gerakan ini adalah untuk mengajak seluruh komponen masyarakat terlibat dalam gerakan melawan korupsi. Berbagai cara dan metode yang sudah dilakukan selama ini umumnya melalui jalur hukum, advokasi, atau kampanye media secara langsung. Jalur pendidikan pun sudah mulai dirintis melalui beberapa perguruan tinggi yang memiliki program khusus tentang kajian korupsi seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, dan Universitas Paramadina. Selain itu, korupsi yang sudah membudaya juga harus dilawan dengan membangun budaya antikorupsi. Pentas Ladang Perminus, diangkat dari novel karya Ramadhan KH tentang korupsi di sebuah perusahaan minyak milik negara, merupakan bagian dari rangkaian gerakan kebudayaan yang diharapkan bisa meluas dan terus menguat secara perlahan namun pasti. Pentas teater ini digelar di Bandung (Gedung Rumentang Siang, 6, 7, dan 8 Agustus pukul 14.00 dan 20.00) dan Jakarta (Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, 12 dan13 Agustus pukul 14.00 dan 20.00).

Sasaran utama penonton adalah pelajar SMA. Sebab, merekalah yang bisa mengubah keadaan di masa datang. Merekalah yang bisa menjadi generasi antikorupsi yang kuat menghadang badai keserakahan yang selalu melanda jiwa manusia. Merekalah yang bisa mengatakan tidak ada ampun untuk koruptor. Tak peduli apakah itu corruption by need atau corruption by greed. Sebab, apa pun motifnya, korupsi tak bisa dibenarkan dan ditoleransi. Dengan tagline “di negeri ini, hanya di negeri ini, seorang koruptor bisa menjadi pahlawan!” sebagaimana yang benar terjadi dalam novel Ladang Perminus, diharapkan pementasan ini menggugah bergulirnya gerakan melawan korupsi di Indonesia. Katakan “cukup!” dan mari kita lawan korupsi bersama-sama. Jangan sampai terlalu banyak koruptor justru menjadi pahlawan di negeri kita. (*)

Sumber: http://www.vhrmedia.com/Ladang-Perminus-sikap1967.html

About this entry

Posting Komentar

 

Teater-Perminus | Author's blog | Powered By Blogspot | © Copyright  2009