Pengumuman Penundaan Penutupan Lomba Menjadi Tanggal 13 September 2009

Sehubungan dengan banyaknya permintaan dari siswa SLTA untuk mengikuti lomba penulisan dari kota lain selain Bandung dan Jakarta, bersama ini diinformasikan bahwa setelah mempertimbangkan pemerataan kesempatan, panitia memutuskan untuk menunda penutupan lomba penulisan dari tanggal 30 Agustus menjadi 13 September 2009.

Persyaratan bahwa siswa SLTA yang mengikuti lomba harus menonton pementasan dan mewakili sekolahnya telah ditiadakan. Dengan demikian lomba penulisan opini ini menjadi terbuka untuk seluruh siswa SLTA dari seluruh Indonesia. Bahan informasi mengenai tema dan lain-lain silahkan diakses di www.teater-perminus.blogspot.com.

Persyaratan lain silahkan dilihat di TOR yang baru di bawah ini.

Terima kasih dan harap maklum.



Lomba Penulisan Opini Anti Korupsi Tingkat SLTA
Term of Refference
Lomba Penulisan Opini Anti Korupsi Tingkat SLTA



PENGANTAR


Perilaku korupsi, kolusi, dan nepotisme yang sudah sangat mengakar di berbagai lapisan birokrasi dan instusi pemerintahan, memerlukan upaya-upaya pencegahan yang melibatkan seluruh anggota masyarakat. Upaya strategis yang masih memerlukan dukungan masyarakat secara luas adalah menumbuhkan semangat anti korupsi pada kalangan generasi muda sehingga di masa depan, secara pasti bangsa kita benar-benar akan terbebas dari praktik-praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat ini, setidaknya telah berhasil menciptakan kondisi yang membuat para koruptor besar menahan aksi-aksi korupsi mereka. Namun apa yang dilakukan KPK baru menyentuh sebagian kecil saja dari permasalahan korupsi dan upaya-upaya pemberantasannya. Tanpa dukungan kongkrit dari masyarakat, entah itu hanya berupa upaya minimal tidak mendukung praktik korupsi sampai upaya yang lebih besar seperti melakukan kampanye anti korupsi sendiri, KPK akan kewalahan memerangi korupsi.

Salah satu contoh kampanye anti korupsi yang dilakukan atas inisiatif sendiri adalah pementasan teater “Ladang Perminus” oleh sejumlah seniman yang berkolaborasi dengan sejumlah LSM. Naskah “Ladang Perminus” karya Ramadhan KH menceritakan kasus korupsi di bidang migas pada masa lalu menjadi sebuah media untuk mengajak masyarakat ikut bersama-sama melawan korupsi.

Jalan kebudayaan untuk mengkampanyekan berbagai persoalan sosial bisa lebih efektif karena sifatnya yang lebih persuasive. Bertolak dari pementasan Ladang Perminus yang akan digelar di Bandung dan Jakarta pada bulan Agustus 2009 dengan fokus penonton siswa SLTA, akan diadakan sebuah lomba penulisan opini untuk siswa SLTA yang menjadi penonton pementasan teater Ladang Perminus.

Bagi siswa SLTA yang ingin terlibat dalam lomba penulisan namun tidak dapat menghadiri pementasan, dipersilahkan untuk melihat sumber informasi di www.teater-perminus.blogspot.com



TUJUAN

Tujuan lomba ini terkait dengan upaya untuk menumbuhkan semangat anti korupsi di kalangan generasi muda. Melalui lomba penulisan opini yang dikaitkan dengan pementasan teater Ladang Perminus, siswa SLTA yang menonton selain terstimulus untuk melakukan apresiasi, juga dimotivasi untuk menuangkan pendapat mereka dalam bentuk tulisan opini. Diharapkan setidaknya setiap SLTA mengirimkan satu tulisan dari siswa yang mereka tunjuk sehingga jika ada 120 SLTA yang menonton, akan terkumpul 120-an tulisan yang mewakili opini generasi muda tentang korupsi.



TEMA:

Tema lomba penulisan opini ini tidak berhubungan langsung dengan cerita dalam pementasan teater Ladang Perminus karena pertunjukan tersebut hanya menjadi semacam “alat” untuk merangsang gagasan dan pendapat siswa SLTA tentang korupsi. Tema untuk lomba penulisan ini adalah:

1. Korupsi dan Masa Depan Bangsa
2. Dampak Korupsi Terhadap Lingkungan Hidup
3. Dampak Korupsi Terhadap HAM
4. Jika Ada Seorang Koruptor di Keluarga

Setiap peserta bebas memilih satu tema


PERSYARATAN


1. Tulisan harus merupakan karya asli siswa dan mendapatkan rekomendasi dari sekolah yang bersangkutan
2. Tulisan belum pernah dipublikasikan di majalah sekolah maupun media umum
3. Peserta adalah siswa kelas 2, atau 3 yang masih aktif (bukan alumnus)
4. Panjang tulisan 3 sampai 5 halaman ketik computer, 1,5 spasi, font Times News Roman 12 poin
5. Bentuk tulisan adalah opini, bukan artikel ilmiah
6. Memakai bahasa Indonesia popular, tidak harus baku
7. Identitas dan alamat peserta ditulis di bagian bawah tulisan dengan jelas
8. Menyertakan foto kopi kartu pelajar
9. Naskah hardcopy dikirim via pos ke alamat panitia selambat-lambatnya 13 September 2009. Sedangkan sebagai cadangan, naskah sofcopy dikirimkan melalui email ke ladangperminus@yahoo.com dengan ditulis subyek berita LOMBA LADANG PERMINUS (nama sekolah) selambat-lambatnya tanggal 13 September 2009
10. Keputusan Juri mutlak dan tidak bisa digangu gugat
11. Dalam lomba penulisan ini, panitia tidak mengutip biaya apapun kepada peserta baik siswa maupun sekolah


HADIAH


Juara I : Rp. 1.000.000,-
Juara II : Rp. 750..000,-
Juara III : Rp. 500.000,-
Juara Harapan I sampai VII masing-masing mendapatkan Rp. 300.000,-

Tulisan yang mendapatkan juara I hingga Juara Harapan VII rencananya akan diterbitkan dalam buku beserta beberapa tulisan peserta lain yang dianggap layak.

Seluruh peserta dan sekolah yang terlibat akan mendapatkan sertifikat dari penyelenggara.


DEWAN JURI


1. Indonesian Corruption Watch
2. WALHI
3. Perkumpulan Seni Indonesia


PENYELENGGARA

Kerjasama antara Indonesian Corruption Watch, Perkumpulan Seni Indonesia, Perkumpulan Praxis, Mainteater Bandung dan WALHI


ALAMAT SEKRETARIAT

Jl. Salemba Tengah No. 39-BB, Jakarta 10440
Tel. 021 3156907, 3156908 Fax. 021 3900810 Mobile 0811182301
email: ladangperminus@yahoo.com
www.teater-perminus.blogspot.com


PENGUMUMAN
Read On 0 comments

Kata Mereka

Komentar pementasan dari audiens pelajar, guru, dan masyarakat umum Bandung dan Jakarta:


Fabulous! kawan-kawan di pementasan berhasil menyajikannya dengan sangat apik dan memberi kesan bahwa hidup kita ini adalah sandiwara nyata dimana setiap orang adalah peran utamanya (0856---)

Bagus, tapi maaf ceritanya mungkin terllau berputar-putar maaf ya , tapi keseluruhan sudah bagus. (0833---)

Top dech pokonya (0898---)

Plotnya cukup terbnagun, tapi beberapa peran pembantu masih kaku dan kurang natural seperti masih menghapal, Cuma segitu maklum ga nonton sampe beres (0812---)
Ok, sangat bagus alangkah baiknya kalau dibuat film, akan sangat bermanfaat bagi guru sebagai media pembelajaran. (0817---)

Tema yang mengangkat masalah korupsi yang sudah mengkristal, bahkan sulit ditumpas sangat menarik bagi saya, ini merupakan gambaran negatif bagi kita semua tentang keadaan negara. Mengenai tampilan pementasan, mimik pelaku dll saya angkat jempol, saya belajar banyak hal ketika melihat pementasan tersebut khususnya mengenai teater, pokonya saluut deh moga sukses (0813---)

Pertunjukan teater Ladang Perminus menurut saya sudah hampir sempurna. Saya harap cerita dalam pertunjukannya lebih diperjelas. Thank’s. Semoga sukses (0852---)

Pementasan yang diselenggarakan ini sangat menarik dan menambah pengetahuan kita di bidang korupsi. Ditambah dengan akting orang-orang yang memerankannya, membuat ceritanya seperti sungguhan. Saya merasa senang telah diundang menonton Ladang Perminus. (0898---)

Mestinya pementasan ini dipertunjukkan di depan wakil rakyat... ada bagian-bagian yang ga jelas maksudnya (pramugari lagi ngobrol) tapi secara keseluruhan menarik banget buat ditonton (0812---)

Bagus, cukup menyentuh untuk berkaca diri dalam pembelajaran tentang kepribadian yang jujur dan bertanggung jawab untuk generasi penerus bangsa yang bersih dan bertransparansi dalam mengaudit keuangan negara, alangkah baiknyalagi acara seperti ini jangan hanya satu departemen saja. Terima kasih. (Renja, smkn 2 jakarta)

Agak monoton pas pergantian latar tempatnya (0857---)

Owh, mpentasnya keren abiez.. ini bisa dijadikan contoh buat anak-anak muda sekarang (0898---)

Pementasannya bagus, tapi saya kurang paham endingnya. Kenapa Kahar itu harus dimakankan di taman makam pahlawan? Apa karena dimakamkan di sana bisa disebut seorang pahlawan? (0229294---)

Bagus. Penghayatan maksimal. Karakter tokoh sesuai. Tetapi pengantar alur terlalu panjang, beberapa bloking membelakangi penonton sangat mengganggu (0815---)

Aktor, aktris bermain total. Skenario ok banget. Tata lampu panggung hebat! Kalo durasi persingkat tanpa mengurangi inti cerita akan lebih ok (0812---)

Perlu ada tambahan adegan agar amanat yang diusung mengalir dan terjaga, terutama penonton awam yang terbiasa disuguhi menu sinetron. (0852---)

Bagus. Saya kagum dengan pementasan malam itu. Pemain sangat menjiwai. Kostum pemain sangat pas. Tata ruang/setting sesuai adegan. (0815---)

Menurut Wy teaternya tuh bagus banget ngasih pesannya tuh bagus, udah gitu aneh aja gitu seorang koruptor bisa jadi pahlawan. Si Bapak Hidayatnya itu meskipun berperilaku baik tapi mempunyai simpanan gitu, jadi ngebuat si penonton tuh aneh gitu! Kahar pahlawan yang jasanya itu entah di mana tapi jadi pahlawan. (0857---)

Keren! Serius, sarat pesan. Saya yakin proses adaptasinya dan latihan memakan waktu lama. Tokoh Hidayat dan Kahar yang sangat menarik membuat cerita sangat hidup. Sukses dan hebat! (Tanti SMA 8)

Bagus dan mendidik. Pemeranan juga sudah cukup pas. (Decky, SMA 19 Bandung)

Bagus tapi kurang jelas waktu akhir ceritanya. (0856---)

Bisa dijadikan sebagai contoh kehidupan bahwa kita dilarang melakukan perbuatan korupsi sekecil apapun. (0852---)

Sebuah pementasan yang membukakan kesadaran atas bobroknya pejabat, kegamangan manusia jujur yang diming-imingi upeti, dan perjuangan untuk tetap bekerja idealis dan bermoral. (0852---)

Bagus, menarik tepat ditonton oleh generasi penerus. Mudah-mudahan melalui pementasan teater itu generasi muda lebih tergugah nuraninya untuk di kemudian hari bila menjadi orang yang punya wewenang tidak menyalahgunakannya sebab cepat/lambat akan berending tragis. (0852---)

Teaternya cukup menarik. Semuanya dilakukan dengan sangat rapi. Tapi tempatnya kurang nyaman sehingga suara dari luar ruangan mengganggu konsentrasi untuk menyimak teater itu. (0898---)

Bagus, sangat baik untuk dijadikan mediator penyampaian penyuluhan budaya korupsi pada cikal bakal para calon pemimpin bangsa, namun menurut saya peran yang disajikan masih cukup kasar bagi pemikiran seorang pelajar, sehingga diperlukan pemikiran-pemikiran tertentu untuk mencerna apa yang akan disampaikan pada pementasan teater itu sendiri sebagai mediator penyuluhan budaya korupsi. (0857---)

Ladang Perminus sangat top dan diacungi jempol karena berkat itu kita sadar akan kekayaan alam yang kita punya selama ini jadi incaran para koruptor. (0881---)
Asyik, segar. Semula kupikir bakal bete, gak taunya betah sampe selese. Apalagi musik ok! (0811---)

Pementasannya bagus. Walaupun temanya serius tapi tetap bisa disampaikan dengan menghibur. Cuma untuk pola pergantian settingnya mungkin bisa diberikan beberapa variasi supaya tidak kesannya terlalu teknis mengingat banyaknya pergantian setting. (Wewe, 0813---)
Read On 0 comments

Perlawanan dari Atas Panggung

KOMPAS
Minggu, 16 Agustus 2009 | 03:24 WIB
Putu Fajar Arcana

Pilihan terhadap realisme di panggung teater di tengah silang sengkarut kebudayaan urban hanya akan mengundang risiko. Bahkan, apa yang terjadi di panggung tak mungkin bisa menyamai kenyataan, yang kata pemikir kebudayaan Umberto Echo kian menuju pada hiper-realitas.
Ada dua risiko yang harus ditantang Mainteater Bandung ketika mementaskan naskah adaptasi dari novel Ladang Perminus karya Ramadhan KH, Rabu (12/8)-Kamis (13/8) di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Penulis naskah sekaligus sutradara, Wawan Sofwan, harus bekerja sama dengan penulis FX Rudi Gunawan untuk menaklukkan novel Ramadhan KH yang pelik dan penuh dengan plot simpangan. Wawan dan Rudi bahkan menyebutkan mereka sampai harus membuat enam draf sebelum akhirnya naskah siap dipentaskan. Itu risiko pertama mengadaptasi kisah yang dituturkan orang lain dalam bentuk yang lebih naratif.
”Sejumlah adegan dalam draf enam harus dihilangkan untuk mempertajam konflik,” ujar Rudi Gunawan. Persoalan belum selesai. Materi cerita yang disediakan Ramadhan sesungguhnya perkara korupsi di tubuh perusahaan minyak terbesar di Indonesia, Perminus (Perusahaan Minyak Nusantara), yang terjadi tahun 1970-an. Kita tahu korupsi sampai di masa kini adalah kisah-kisah tragik-komedi sekaligus mengandung absurditas absolut. Inilah tantangan kedua, yang kemudian membuat Wawan Sofwan memutuskan memilih bentuk realis.
”Kami mengangkut dua truk properti langsung dari Bandung,” kata Wawan. Cukup beralasan, karena seluruh landasan panggung beserta perabotan, seperti meja, kursi, jendela, gantungan topi, vas bunga, tempat tidur, kasur, dan tentu saja kostum pemain, semuanya adalah benda sehari-hari yang kita kenal dan memiliki volume besar.
Jangan heran bila kemudian pergerakan adegan sangat ditentukan oleh setting. Lakon tidak hanya disusun oleh struktur plot yang ketat, tetapi juga dibangun oleh setting. Begitulah risiko berat yang harus ditempuh Wawan. Benda-benda seperti meja dan kursi tak memberi imajinasi apa pun ketika ia ditempatkan dalam bingkai realisme. Salah-salah bisa menjerumuskan pementasan pada kelambanan dan membelenggu kebebasan tafsir.
Adegan pendek
Wawan dan Rudi boleh dipuji atas keberanian keduanya memilih bentuk realis di tengah absurditas perilaku korupsi di negeri ini. Cobalah renungkan tokoh seperti Kahar (Fajar Emmillianus), seorang direktur di Perminus yang sudah kaya-raya dan beristri dua, masih juga dengan pongah melakukan korupsi. Bukankah ini paralel dengan realitas hidup di negeri ini, di mana tindakan korupsi, setidaknya yang diketahui, lebih banyak dilakukan oleh pejabat yang kaya-raya? Itukah yang disebut rakus? Ah, jangan-jangan tindakan korupsi itu semacam kleptomania? Absurd bukan? Sementara tokoh Hidayat (Wawan Sofwan) yang lurus dan jujur dituding bodoh dan orang bodoh pasti miskin.
Wawan dan Rudi tahu persis, pertama-tama realisme akan mengundang kebosanan lantaran dianggap memiskinkan tafsir. Oleh karena itu, 30 adegan yang membentuk bangunan cerita tak satu pun berdurasi lebih dari 5 menit. Pementasan ini ibarat potongan-potongan gambar yang disatukan oleh struktur plot besar: mengutuk perilaku korupsi secara ”membabi-buta”. Mungkin itu pula sebabnya poster pementasan ini memasang potret celeng, binatang yang dicap rakus menggeduk isi hutan.
Bahkan, pada adegan ke-20 ketika terjadi perundingan antara Hidayat dan investor dari Belgia, Onkelinx (Nandi Riffandi), untuk pembangunan pabrik baja di Cilegon, tak ada dialog yang terdengar. Gambar-gambar diperkaya dengan blocking tokoh-tokoh yang berubah-ubah diiringi siraman lampu yang dinamis. Adegan ini sudah cukup mengingatkan kita pada realisme yang diusung film. Begitu juga dengan adegan-adegan pendek itu, sepenuhnya mengacu pada visualisasi dan pengadeganan sebagaimana biasa terjadi pada film.
Siapa pun tak bisa menyangkal sampai kini realisme pada film seperti tak bisa habis. Bahkan, pada film-film fiksi ilmiah, segala sesuatu yang sesungguhnya belum nyata disodorkan sebagai sesuatu yang benar-benar ada sehingga seusai menonton kita mulai berpikir mungkin suatu kali realitas pada film benar-benar terhampar di hadapan kita.
Keberhasilan pementasan Ladang Perminus yang didukung banyak institusi pencemooh perilaku korupsi tiada lain dari kecerdikannya mencantol pada realisme yang disodorkan dunia film. Di situ persoalan penentangan pada perilaku korup tidak jatuh pada slogan atau sekadar bentangan spanduk di jalan-jalan. Dan, kita justru diajak untuk membenci Kahar bersama-sama dengan pernyataan yang melecehkan orang-orang lurus dan jujur. Perlawanan dari panggung itu diam-diam menyusup ke dalam hati kita. Lawan korupsi!
Read On 0 comments

Ladang Perminus, Cerminan Korupsi Sektor Migas

By beritaseni on August 21st, 2009

Oleh Ratu Selvi Agnesia


Pernahkah terbayangkan bila korupsi telah menyebar ke berbagai sektor di negeri ini termasuk dalam tubuh sektor minyak dan gas [Migas]? Pertunjukan teater “Ladang perminus” mengupas habis hingga ke kulit ari kasus korupsi dalam tubuh Perminus. Pementasan yang berlangsung di Bandung [6-8/08/09] dan Jakarta [12-13/08/09]mendapat sambutan hangat dari berbagai baik kalangan seniman, media, LSM, pelajar dan mahasiswa.
Adegan awal lampu menyorot panggung, terlihat suasana kantor. Hidayat [Wawan Sofwan], Subarkah [Chandra Kudapawana] dan Herman [Sahlan Mujtaba] tengah asyik membicarakan berita di koran Indonesia Raya.
Koran hari itu berisi data-data korupsi di tubuh Perminus yang merugikan negara, terlihat jelas dari awal hingga akhir cerita, penonton diajak untuk berpikir kritis tentang korupsi melalui pertunjukan teater realis dengan setting tahun 1970-an.
Letupan-letupan konflik juga muncul saat Hidayat merasa dibohongi dan terhina disebabkan atasannya Kahar [Fajar Emmilianus] memanfaatkan perjuangan Hidayat untuk menyelamatkan uang negara tapi malah dikorupsi oleh Kahar dan pencalonan Hidayat sebagai gubernur Jawa Barat dijadikan alat oleh Kahar untuk menjatuhkan Hidayat dari Perminus.
Meski di ending pertunjukan, kasus korupsi Kahar terbongkar media massa tetapi tidak merubah gelar Pahlawan yang disandangnya dengan dikuburkannya di Taman Pahlawan dengan upacara kenegaraan. Tentu saja hal ini membuat Hidayat mengerutkan kening karena tidak percaya dengan persepsi pahlawan di negeri ini, sesuai dengan dialog terakhir Hidayat, “Di negeri ini, hanya di negeri ini, seorang koruptor bisa menjadi pahlawan.”
Ladang perminus yang diadaptasi dari novel Ramadhan KH dengan judul yang sama merupakan kelanjutan dari pementasan Sandekala dari novel Godi Suwarna. Ke-duanya memiliki benang merah yang masih berisi kasus korupsi dan mainteater bekerjasama dengan berbagai lembaga mewujdukannya dengan apik untuk memberikan sebuah wacana baru untuk penyampaian pesan moral tentang kejahatan korupsi melalui teater.
Secara keaktoran, para pemain terlihat total dalam mengeksplorasi aktingnya di atas panggung, terutama tokoh Hidayat dan Kahar, sehingga penonton terlihat hanyut dan gereget dengan alur cerita pertunjukan yang berdurasi dua jam. Perwujudan bentuk novel kedalam naskah teater dalam Ladang perminus oleh FX.Rudy Gunawan dan Wawan Sofwan tidak membuat hilangnya estetika sastra dan seni.
Terlihat segurat wajah kepuasan dari wajah Gilang Ramadhan, anak dari almarhum Ramadhan KH setelah menyaksikan pementasan Ladang perminus di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta. []
* Penulis Seni Pertunjukan, tinggal di Bandung.
Read On 0 comments

Di negeri ini, hanya di negeri ini seorang koruptor bisa jadi pahlawan

Ladang Perminus adalah sebuah pertunjukkan teater yang diadaptasi dari novel yang berjudul sama karya Ramadhan KH. Pementasan teater Ladang Perminus dilaksanakan di dua kota, yaitu di Bandung, tanggal 6-8 Agustus di Gedung Kesenian Rumentang Siang dan Jakarta, tanggal 12-13 Agustus 2009 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki.
Teater ini mengisahkan maraknya praktek kotor di sebuah perusahaan minyak bernama Perusahaan Minyak Nusantara (Perminus). Cerita berputar pada tokoh Hidayat, seorang mantan pejuang '45 yang ditampilkan sebagai karakter yang jujur, idealis, dan sangat menjunjung nilai moral dan hati nurani, yang harus jatuh bangun berjuang di tengah-tengah lingkungan yang korup.
Dalam karirnya di Perminus, Hidayat sempat menjadi korban fitnah dan kemudian "dirumahkan" karena tuduhan korupsi atas dirinya, namun tuduhan tersebut terbukti tidak benar, dan kemudian dia kembali bekerja di Perminus, dan kemudian ditugaskan untuk menangani tender dengan sebuah perusahaan Jepang di Singapura. Disinilah berbagai konflik dimulai. Mr.Kobayashi, direktur perusahaan Jepang tersebut sempat membujuk Hidayat dengan memberikan hadiah berupa sebuah mobil terkenal model terbaru melalui sekretarisnya. Hidayat yang lugu sempat sungkan dan menanyakan maksud pemberian tersebut, meskipun kemudian dia menerimanya dengan enggan. Sekembalinya Hidayat dari Singapura, dia melapor pada atasannya Kahar, dan bermaksud mengembalikan hadiah tersebut kepada Mr.Kobayashi. Kahar, melihat keluguan Hidayat, memanfaatkan kesempatan tersebut dan menganjurkan Hidayat agar menghibahkan mobil tersebut kepada perusahaan, dan Hidayat pun menyetujuinya.
Kahar merupakan tokoh antagonis utama dalam pementasan ini. Ia digambarkan sebagai sosok yang rakus, licik, dan juga keji dengan berbagai permainannya yang menjegal dan menyebar fitnah untuk mencapai tujuannya. Setelah Hidayat menyerahkan mobil tersebut kepada perusahaan, Kahar malah memberikan mobil tersebut kepada selingkuhannya.
Kahar, atasan Hidayat yang licik dan korup
Sementara itu, kawan-kawan seperjuangan Hidayat bersepakat untuk mencalonkan Hidayat sebagai Gubernur Jawa Barat karena latar belakang Hidayat yang dikenal cerdas dan jujur. Setelah mendapat berbagai dukungan, mereka mengajukan usul tersebut kepada Hidayat, namun usulan tersebut ditolak oleh Hidayat.
Hidayat menolak tawaran teman-temannya untuk menjadi Gubernur
Dengan rekan kerjanya, Hidayat juga mengalami berbagai konflik, antara lain dengan Sadikin yang jujur tapi memilih menutup mata terhadap kebusukan di sekitarnya dan Subarkah, yang lebih memilih bermain aman, dalam proyek pembangunan pengolahan minyak di Indramayu yang banyak menyengsarakan rakyat sekitar dengan uang ganti yang tidak wajar.

Hidayat berdiskusi dengan Sadikin dan Subarkah
Dalam perjalanan Hidayat ke Singapura berikutnya, dia sempat tergoda oleh Ita, seorang pramugari cantik (rupanya manusia memang tak ada yang sempurna hihihi) yang memandang Hidayat sebagai sosok yang karismatik, meskipun Hidayat tak menyentuh Ita, namun mereka sempat berfoto bersama di sebuah kamar hotel dengan Yu, salah seorang kurir perusahaan asing di Singapura (Yu merupakan karakter yang paling banyak mengundang tawa dalam cerita ini). Hidayat pun meminta Yu untuk mengirimkan foto tersebut ke kantornya.
siapa coba yang tidak tergoda oleh pramugari-pramugari cantik ini hihihi
Hidayat berduaan bersama Ita di kamar hotel
Konflik mencapai puncaknya ketika sepulang dari Singapura, Hidayat ditugaskan untuk melakukan kajian atas proyek pembangunan sebuah pabrik baja di Cilegon. Berkat kerja keras Hidayat dan timnya, mereka berhasil menurukan penawaran sebanyak 60 juta franc dari 630 juta franc menjadi 570 juta franc. Hidayat kemudian melaporkan keberhasilannya kepada Kahar, dan meskipun Kahar memberikan apresiasi terhadap keberhasilan Hidayat, melihat kesempatan ini untuk mengeruk uang demi kekayaan pribadi dan mengubah laporan penawaran tersebut menjadi 600 juta franc ! Hidayat kemudian mengetahui kecurangan ini lewat Onkelinx, seorang Swiss yang turut serta dalam proses penawaran dan dari Subarkah, dimana Subarkah ternyata orang yang diminta Kahar untuk menaikkan penawaran tersebut. Merasa direndahkan, Hidayat kemudian menghadap Kahar, dan mendapat perlakuan kasar dari Kahar dengan mengatakan bahwa hal tersebut bukan urusan Hidayat lagi.
Sementara itu tanpa sepengetahuan Hidayat, kawan-kawannya telah mencalonkan dirinya sebagai Gubernur, dan berita pencalonan Hidayat muncul sebagai berita utama sebuah koran. Kahar, merasa posisinya terancam dengan pencalonan Hidayat sebagai Gubernur, kemudian memecatnya. Hidayat menanggapi pemecatan ini sebagai sebuah pernyataan perang, dan dia menyatakan akan mengusut tuntas kasus penggelapan uang dalam proyek pembangungan pabrik baja yang didalangi Kahar.
Hidayat menghadapi Kahar
Setelah kepergian Hidayat dari Perminus, Yu, yang tidak mengetahui bahwa Hidayat telah keluar dari Perminus, datang membawa foto Hidayat bersama Ita yang dipesan Hidayat tempo hari, dengan lugunya, Yu, yang tidak menemukan Hidayat di mejanya, menghadap Kahar dan kemudian memberikan foto tersebut. Kahar melihat ini sebagai peluang emas untuk menjatuhkan Kahar dan segera menyebarluaskan foto tersebut ke kalangan media.
Sebagai akibat dari "skandal" tersebut, Hidayat gagal dicalonkan sebagai Gubernur. Tapi ia tidak tinggal diam dan kemudian membongkar skandal perselingkuhan dan korupsi yang dilakukan Kahar. Ketika berita mengenai keburukannya terbongkar oleh media, Kahar terkena serangan jantung dan meninggal di tempat.
Tapi masalah tidak selesai sampai di situ. Di kediamannya, Hidayat mendapat berita bahwa Kahar akan dimakamkan di taman makam pahlawan dengan prosesi kepahlawanan. Pertunjukan kemudian ditutup dengan adegan Hidayat berteriak lantang, "Di negeri ini, hanya di negeri ini, seorang koruptor bisa menjadi pahlawan !"
Secara keseluruhan pementasan berlangsung dengan baik. Tokoh dan kejadian yang digambarkan terasa sangat hidup, terlebih karena setting memang berputar di negara kita sendiri, dan nama dan istilah yang digunakan memang terdengar tak asing di telinga kita. Pemeran tokoh Hidayat mampu menunjukkan ketegasan dan keberanian Hidayat dalam melawan kebusukan dengan baik, sementara pemeran Kahar benar-benar dapat menimbulkan antipati penonton. Tata lampu dan musik yang digunakan dapat membawa kita ke suasana Indonesia pada jaman dahulu. Selain itu penataan kostum menurut saya perlu diacungi jempol, dengan permainan warna yang digunakan membuat komposisi warna dan bentuk panggung menjadi sedap dilihat.


Album foto Ladang Perminus bisa dilihat di http://rubahkelabu.multiply.com/photos/album/92/Ladang_Perminus.

Tags: teater, ladang perminus, rumentang siang
Prev: The Sisterhood of The Traveling Pants (2005)
Read On 0 comments

Main Teater Bongkar Korupsi Ladang Perminus

Hanya di negeri ini seorang koruptor bisa menjadi pahlawan.

Berbalut kemeja dan jas, Hidayat siap menghadap bos kantornya. Ia menenteng kunci dan amplop. "Silahkan masuk Pak Dayat," teriak Kahar, sang bos dari dalam ruang kerjanya.

Keraguan hilang sesaat ketika suara keras itu memintanya masuk. Agak terbata-bata Hidayat menjelaskan maksud kedatangannya. "Apa itu?" tutur Kahar bertanya. "Ini kunci dan surat-surat mobil keluaran terbaru. Rekanan kita memberikan ini sebagai hadiah untuk saya. Tetapi saya sepertinya berat untuk menerima ini," ungkap Hidayat menjawab.

Sontak mata Kahar terbelalak. Kursi malasnya pun menjadi lebih tegak ketimbang sebelumnya. Ia bersiap menjadi pendengar dan penasihat terbaik bagi Hidayat. Kahar mengatakan, hadiah itu wajar diterima Hidayat. Tetapi, Dayat sekali lagi menolak mengambilnya.

Bagi Kahar jawaban penolakan itu adalah berkah untuk dirinya. Ia pun berkata,"Tidak apa kamu serahkan pada perusahaan. Mobil ini bisa jadi aset perusahaan kita."

Hidayat pun mengangguk. Tetapi, tiga langkah setelah Hidayat pamit dari hadapan Kahar sesuatu yang tidak diketahuinya terjadi. Kahar memberikan mobil itu pada kekasihnya dan berujar bahwa itu adalah hadiah terindah Kahar untuk sang gadis. "Di Perminus itu sudah biasa," ujar seorang kawan kerja Hidayat.

Hidayat menolak anggapan bahwa segala sesuatu bisa dikorupsi seenak perut dan tanpa memikirkan nasib negara. Ia menolak aksi korupsi itu dan berniat melawan. Konflik ini berhenti setelah Kahar meninggal dan diberikan status pahlawan karena jasanya di Perminus.

Konflik humanis ini yang bisa disaksikan dalam pementasan kesekian dari kelompok teater Mainteater di Gedung Kesenian Rumentang Siang, 6-8 Agustus lalu. Teater yang diangkat dari novel karya Ramadhan K.H. yang berjudul Ladang Perminus. "Tentu saja tidak ada perusahaan bernama Ladang Perminus," ujar Andi Yuwono, produser pementasan.

Andi mengatakan Ladang Perminus adalah karya yang diadaptasi dari kejadian perusahaan terbesar milik Indonesia yang bergerak di bidang perminyakan. Novel ini mengambil setting korupsi di Pertamina pada tahun 1970-an. Dalam kisahnya disebutkan betapa sudah mengguritanya perilaku korupsi di perusahaan tersebut yang akhirnya harus "memaksa" setiap orang yang berurusan dengan Pertamina juga harus melakukan korupsi dan kolusi. "Ini adalah kritik sosial terhadap kenyataan itu," katanya.

Pementasan naskah Ladang Perminus merupakan hasil kerja sama Indonesia Corruption Watch (ICW) bekerja sama dengan Perkumpulan Seni Indonesia (PSI), Walhi, Kelompok Praxis, dan Mainteater Bandung. Willy Pramudya dari PSI mengatakan, pementasan teater yang menceritakan kasus-kasus di negeri ini merupakan cara untuk mengingatkan kembali pada masyarakat tentang kekejaman korupsi di negeri ini. "Pementasan teater memiliki fungsi sebagai cermin dari situasi masyarakat di mana teater itu tinggal," ujar Willy

Libatkan SMA

Pementasan teater Ladang Perminus, yang akan berlangsung pula di Jakarta pada 12-13 Agustus 2009, ini pun sempat diramaikan oleh siswa-siswa sekolah menengah atas di Bandung. Mereka datang dalam jumlah tidak kurang dari 200 orang dan mampu duduk anteng selama dua jam pertunjukan.

Andi mengatakan, keterlibatan siswa sekolah sebagai penonton pertunjukan adalah langkah berkampanye. Mereka, menurut Andi, merupakan bibit-bibit generasi yang mesti terus diingatkan dan diberikan pengetahuan tentang realitas negerinya.

"Semoga mereka bisa kritis dan terus menelaah kejadian di negerinya hingga tidak ada salah menempatkan mana pahlawan dan mana bukan dalam hidup mereka," ujar aktivis dari Kelompok Praxis ini. ***

agus rakasiwi - kampus_pr@yahoo.com


Sumber: http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=92176
Read On 0 comments

KOMPAS Images: Ladang Perminus





Ladang Perminus

Pementasan teater Ladang Perminus di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (12/8). Ladang Perminus merupakan hasil adaptasi novel karya Ramadhan KII dengan judul yang sama mengangkat fenomena korupsi di sebuah industri minyak dan gas yang berimplikasi pada kerusakan lingkungan dan pelanggaran HAM. Kompas/Lucky Pransiska (UKI) 12-08-2009


Sumber: http://images.kompas.com/detail_news.php?id=23875&page=2
Read On 0 comments

ANTARA Foto: Ladang Perminus





JAKARTA, 12/8 - LADANG PERMINUS. Pemain dari Mainteater beraksi dalam lakon "Ladang Perminus" dengan sutradara Wawan Sofyan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (12/8). Pementasan itu merupakan adaptasi dari novel Ramadhan KH yang mengangkat permasalahan korupsi hasil kerjasama ICW, PSI dan Praxis. FOTO ANTARA/Fanny Octavianus/pd/09.

Sumber: http://www.antarafoto.com/dom/prevw/?id=1250082354
Read On 0 comments

Korupsi Migas Disorot di Panggung Teater

Prakarsa Rakyat, Jakarta - Lakon Ladang Perminus garapan Wawan Sofwan yang diselenggarakan bersama oleh ICW, Praxis, Perkumpulan Seni Indonesia, Walhi dan Mainteater kembali dipentaskan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki pada tanggal 12 - 13 Agustus lalu setelah Bandung tanggal 6 -8 Agustus 2009.

Pementasan dilakukan selama masing-masing 2 kali pertunjukan setiap harinya. Khusus untuk pertunjukan siang hari diperuntukkan bagi pelajar SMA yang diakhiri dengan diskusi pembahasan wacana dan pertunjukan itu sendiri. Walau tidak banyak dihadiri oleh pelajar SMA, menurut Agung Yudhawiranata, sebagai media relation Ladang Perminus, diskusi yang dilakukan terlihat menarik bahkan pertanyaan yang diajukan oleh para pelajar tersebut sangat mendalam untuk memahami persoalan korupsi di Indonesia.

Menurut Andi Yuwono sebagai produser, pertunjukan di Jakarta tidak seberhasil di Bandung, namun hal tersebut hanya diperbandingkan dengan jumlah kursi semata yang secara total mencatat sekitar 2.300 penonton dari target semula 3.200 penonton. Dari sisi diskusi pelajar, hasil yang dicapai baik di Bandung maupun Jakarta dirasakan sama karena persoalan korupsi sudah merata di seluruh tempat.

Andi menambahkan bahwa pertunjukan di Jakarta juga dihadiri oleh pegawai Pertamina yang setelah pementasan mengirimkan email ajakan untuk menonton kepada pegawai Pertamina lainnya dengan tembusan ke penyelenggara. Selain itu juga pada malam terakhir bahkan beberapa anggota DPRD Sumatra Barat juga hadir di deretan penonton.

Menurut catatan Prakarsa Rakyat di malam terakhir juga terlihat beberapa selebritis antara lain Gilang Ramadhan, anak almarhum Ramadhan KH, serta Samuel Reza.

Pementasan Ladang Perminus yang lebih dari 2 jam memang cukup renyah dengan munculnya tokoh Yu yang diperankan secara apik oleh Moh. Yusri Abd. Rahman, mahasiswa magang dari Malaysia di Mainteater. Tokoh ini muncul dengan dialek cina Malaysia dan kegenitannya di 4 adegan yang selalu membuat penonton terbahak. Sementara Wawan Sofwan (Hidayat) dan Fajar Emillianus (Kahar) tetap prima seperti pertnjukan di Bandung.

Dari buku acara, disebutkan bahwa selanjutnya penyelenggara akan mengadakan lomba penulisan pelajar terhadap isu korupsi serta menyebarluaskan rekaman DVD pertunjukan secara gratis kepada masyarakat.


Sumber: http://www.prakarsa-rakyat.org/artikel/kolom/artikel.php?aid=36058
Read On 0 comments

Hanya di Negeri Ini Koruptor Jadi Pahlawan




SP/Ignatius Liliek

Pemimpin perusahaan, Kahar menceritakan korupsi di perusahaannya pada pertunjukan teater bertajuk "Ladang Perminus" di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (12/8).

Pentas teater dengan lakon Ladang Perminus hari pertama di Jakarta berakhir.


"Di negeri ini, hanya di negeri ini, seorang koruptor bisa menjadi pahlawan," kata Wawam Sofwan dengan penuh kemarahan. Lampu mendadak mati. Sesaat menyala kembali. Tepuk tangan meriah terdengar di ruang Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta, Rabu (12/6).


Wawan memerankan sosok Hidayat, tokoh dalam kisah Ladang Perminus yang diangkat dari karya penulis ternama di negeri ini, almarhum Ramadhan KH dengan judul sama. Hidayat digambarkan sebagai orang penting di perusahaan minyak negara bernama Perminus. Tapi yang terpenting, Hidayat adalah sosok yang resah dengan praktik korupsi di perusahaan negara tersebut.

Sejatinya, Hidayat bukan saja resah. Ia marah. Dan, kemarahannya semakin meluap saat mendengar sang pimpinan tertinggi di perusahaan negara itu meninggal, jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Koruptor diperlakukan sebagai pahlawan.

Ramadhan KH, sang penulis legendaris mengangkat kisah tersebut dengan gaya khasnya. Penuturan yang mengalir. Dialog yang sederhana.

Magnet Ramadhan itulah yang diangkat ke pentas teater oleh FX Rudi Gunawan dan Wawan Sofwan. Tentu saja bukan pekara mudah mengangkat karya Ramadhan yang penuh dialog ke atas pentas teater. "Kami harus memilah dan memilih dialog agar pentas tidak membosankan. Membaca novel besar karya Ramadhan jelas berbeda dengan menyaksikan kisah tersebut di atas panggung. Pada saat yang sama, kami harus mampu menghadirkan semangat Pak Ramadhan dalam upaya pemberantasan korupsi," kata Rudi.

Di atas pentas, pernyataan Rudi bisa diperdebatkan. Pemenggalan kisah itu ternyata tidak mengurangi "beban besar" mengangkat kisah korupsi menjadi pertunjukkan teater yang enak ditonton. Belum lagi jika dikaitkan dengan lama pertunjukan yang hampir 120 menit.

Penyuap

Kunci keberhasilan dalam pentas Ladang Perminus ialah munculnya sosok-sosok penyuap yang kocak. Sosok Michele yang diperankan dengan baik oleh Puspita Hadiati, misalnya. Puspita sangat kocak saat memerankan sosok perempuan berlidah Jepang saat memberikan pemberian suap kepada Hidayat atau kepada Kahar (Fajar Emmillianus).

Tak bisa dilupakan pula sosok Yu yang diperankan aktor muda asal Malaysia, Moh Yusri Abd Rahman. Di atas pentas, gaya bicara Yu dengan dialek Tionghoa sungguh menggelikan. Belum lagi olah tubuhnya yang gemulai.

Tokoh menarik lainnya yang memperkuat pementasan ialah Kahar. Fajar berhasil menampilkan sosok Kahar yang doyan uang suap. [SP/Aa Sudirman]


Sumber: http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=9755
Read On 0 comments

Pentas Teater Ladang Perminus:Melawan Budaya Korupsi Sejak Dini Melalui Seni

12 Agustus 2009 - 9:19 WIB
Kurniawan Tri Yunanto


VHRmedia, Jakarta – Malam ini dan besok malam mulai pukul 19.00 lakon Ladang Perminus akan dipentaskan di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta. Teater adaptasi novel karya Ramadhan KH ini merupakan kritik atas merebaknya budaya korupsi di Indonesia, khususnya di sektor industri perminyakan.

Pementasan teater ini diselenggarakan Perkumpulan Seni Indonesia bersama Indonesia Corruption Watch, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Praxis, dan didukung Komisi Pemberantasan Korupsi. Pentas ini dimaksudkan untuk mengantisipasi serangan balik para koruptor melalui jalur budaya. Karena itu, diperlukan kampanye aktif dalam bentuk apa pun, termasuk kampanye pemberantasan korupsi melalui jalur budaya.

Andi K Yuwono, produser pentas ini, mengaku pertunjukan sepanjang dua jam ini terutama ditujukan kepada pelajar. Sebab, usia 17 tahun merupakan titik awal remaja bersentuhan dengan birokrasi yang cenderung koruptif. Jika tidak mempunyai mentalisme yang kuat, remaja akan terpengaruh oleh mental korup. ”Kami coba pindahkan kampanye pemberantasan korupsi ini ke pentas pertunjukan. Sebab, diperlukan kampanye aktif untuk pemberantasan korupsi, termasuk melalui jalur budaya,” kata Andi, Selasa (11/8).

Ladang Perminus sukses dipentaskan di Bandung beberapa waktu lalu. Respons para pelajar dinilai cukup positif. Mereka mulai mempertanyakan dan mendiskusikan akar permasalahan korupsi di Indonesia. Hal iitu lebih maksimal, karena pertunjukan ini didukung Komisi Pemberantasan Korupsi. ”Para pelajar di Bandung cukup antusias. Selain jumlah penonton melebihi target, pesan kampanye melawan korupsi ini cukup diterima,” kata Andi yang pernah memprodusi lakon Nyai Ontosoroh.

Pentas teater yang disutradarai Wawan Sofwan ini memang tidak menuturkan mengenai kasus tertentu. Ladang Perminus lebih menunjukkan realitas Indonesia yang sesungguhnya, mengenai merebaknya korupsi di berbagai sektor, dan banyaknya sumber alam yang dikuasai perusahaan asing.”Pada pertunjukan ini kami tidak begitu mengedepankan unsur artistiknya, tapi lebih menitikberatkan isi, karena tujuannya lebih pada kampanye,” kata Andi.

Hal senada dikatakan asisten sutradara Heliana Sinaga. Menurut dia, pesan utama pementasan inilah yang menghidupkan Ladang Perminus, adaptasi novel karya Ramadhan KH yang berkisah tentang mantan pejuang angkatan 1945 yang bekerja sebagai manajer perusahaan minyak negara Perusahaan Minyak Nusantara. Pementasan yang melibatkan 20 aktor ini merupakan bentuk media penyadaran bagi publik. ”Seni kan universal dan sifatnya netral. Kami berharap bisa membawanya ke ranah penyadaran. Karena korupsi di negeri ini harus dibasmi,” katanya. (E4)


Sumber: http://www.vhrmedia.com/Melawan-Budaya-Korupsi-Sejak-Dini-Melalui-Seni-berita2008.html
Read On 0 comments

Pentas Teater Ladang Perminus: Korupsi Industri Ekstraktif Rusak Lingkungan

12 Agustus 2009 - 10:46 WIB
Kurniawan Tri Yunanto

VHRmedia, Jakarta – Ketertutupan sektor eskstraktif membuat kemungkinan penyalahgunaan yang koruptif pada industri tambang dan minyak menjadi besar. Hal ini semakin parah ketika tidak ada kebijakan terkait dana recovery yang jelas. Akibatnya, korupsi di sektor ekstraktif berdampak pada kerusakan ekologis yang tidak terhitung.

Berdasarkan audit Badan Pemeriksa Keuangan, sampai semester kedua 2007 terdapat kelebihan pembayaran cost recovery dari minyak senilai Rp 39,999 triliun. Hal itu berdampak pada berkurangnya penerimaan negara senilai Rp 34 triliun. ICW menghitung, terjadi kekurangan penerimaan negara dari minyak mentah selama 2000-2007 senilai Rp 194,095 triliun. Selama 2000-2008 terjadi kekurangan penerimaan negara dari gas senilai Rp 74,595 triliun.

“Industri ekstraktif ini sangat korup. Kecerobohan semua ini sangat terdesain,” kata Sely Martini, Badan Pekerja Indonesia Corruption Watch Divisi Program Monitoring dan Evaluasi, menanggapi pementasan teater Ladang Perminus, adaptasi novel Ramadhan KH, di Taman Ismail Marzuki Jakarta, Selasa (12/8) dan Rabu (13/8) malam.

ICW menengarai Pertamina belum menyetorkan penerimaan negara dari pendapatan pajak pertambahan nilai (PPN) BBM bersubsidi tahun 2006-2007 sebesar Rp 15,975 triliun. Hal ini kembali terjadi pada tahun 2008, di mana negara kehilangan pendapatan dari PPN BBM Rp 15,322 triliun. Penghitungan tersebut didasarkan hasil pemeriksaan BPK dan laporan keuangan pemerintah pusat. “Untuk itulah, kampanye melalui pertunjukan teater ini difokuskan pada kalangan remaja. Karena koruptor juga terus menurun ke generasi berikutnya,” kata Sely di Jakarta, Selasa (11/8).

Hal senada dilontarkan Berry Nahdian Furqon, Direktur Eksekutif Walhi. Menurut dia, hubungan korupsi dan kerusakan lingkungan erat sekali. Kerusakan ekologi yang disebabkan industri ekstraktif sudah tidak bisa terhitung lagi. Sementara dana recovery sampai saat ini tidak jelas. “BP Migas tidak pernah menggunakan alat kontrol. Negara pun terus merugi.”

Berry menyebutkan salah satu contoh kerusakan lingkungan di Indramayu, Jawa Barat. Lebih dari 20 kilometer sepanjang garis pantai tercemar akibat praktik industri ekstraktif yang tidak memperhatikan lingkungan. ”Pentas teater Ladang Perminus sebenarnya mengangkat soal migas. Praktik korupsi membuat sektor migas tidak mempunyai standarisasi dan distribusi menjadi tidak adil,” katanya. (E4)


Sumber: http://www.vhrmedia.com/Korupsi-Industri-Ekstraktif-Rusak-Lingkungan-berita2010.html
Read On 0 comments

Bandung Dibakar Perminus

Prakarsa Rakyat, Bandung - Pementasan terakhir Ladang Perminus di Gedung Rumentang Siang, Bandung, sungguh luar biasa. Pementasan ini diselenggarakan oleh Mainteater bersama Perkumpulan Seni Indonesia, ICW, Praxis, WALHI dan didukung oleh ICCO, Hivos dan Kedutaan Besar Negeri Belanda serta puluhan organisasi masyarakat sipil.


Walau setiap hari penonton meluber, pementasan terakhir Sabtu lalu (08/08), sebagai penutup rangkaian di Bandung tetap dipenuhi penonton hingga ruangan monitor yang sebetulnya dikhususkan bagi kru lampu dan suara. Selain itu, penonton juga terlihat duduk di lantai persis di depan panggung dan gang di kanan kiri.Menurut perhitungan penyelenggara, penonton di pementasan terakhir mencapai jumlah 600 orang yang terdiri mayoritas pelajar SMA dan sisanya SMP. Secara umum, menurut Pimpinan Produksi Zhu Khie Thian, penonton yang datang untuk 5 pementasan tersebut mencapai lebih dari 2.100 orang dari target semula hanya 1.600 penonton.


Dalam pementasannya sendiri, Wawan Sofwan dan FX Rudy Gunawan, cukup berhasil memindahkan cerita dari novel Ramadhan KH ke panggung. Wawan Sofwan selain sebagai sutradara, terlihat sangat prima menjaga kualitas keaktorannya sebagai Hidayat. Sedangkan tokoh antagonis yang sering mendapat teriakan dari penonton, Kahar, sangat baik dibawakan Fajar Emillianus yang juga alumnus STSI Bandung bidang keaktoran.

Selanjutnya pada tanggal 12 - 13 Agustus, lakon Ladang Perminus akan diboyong ke Graha Bhakti Budaya. Di Jakarta, Perminus akan tampil 4 kali setiap pukul 14.00 yang diperuntukkan bagi pelajar dan 20.00 untuk umum. Menurut penyelenggara, seluruh pementasan tersebut tidak dikenakan biaya tiket. Hal tersebut sengaja dilakukan untuk memberikan akses bagi publik agar terlibat dalam kampanye anti korupsi, perusakan lingkungan dan HAM.


Seperti halnya di Bandung, menurut rencana pementasan bagi pelajar juga akan disertai diskusi di setiap akhir pertunjukan. Diskusi tersebut merupakan penguatan wacana anti korupsi sebelum pelajar yang diundang mengikuti lomba penulisan anti korupsi tingkat SMA.
Read On 0 comments

Ladang Perminus di Bandung dan Jakarta

NOVEL Ladang Perminus karya Ramadhan KH diangkat dalam lakon teater oleh kelompok Mainteater pada bulan Agustus mendatang di dua kota. Di Bandung akan digelar tiga hari, pada 6, 7, dan 8 Agustus pukul 14.00 siang dan 20.00 malam. Di Jakarta dipentaskan pada 12 dan 13 Agustus di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) Jalan Cikini Raya, juga pukul 14.00 dan 20.00. Pentas tersebut dipersembahkan dengan gratis.

Lakon Ladang Perminus ini disutradarai oleh aktor kawakan Wawan Sofwan. Para pemain Nandi Riffandi sebagai Hidayat, Fajar Emmillianus sebagai Kahar, dan beberapa pemain lain. Pementasan ini didukung Indonesian Corruption Watch (ICW), Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), dan beberapa lembaga swadaya masyarakat lain yang peduli pada pemberantasan korupsi.

Ladang Perminus adalah novel yang mengangkat persoalan korupsi di Pertamina era 1970-an. Dengan menampilkan tokoh Hidayat, seorang pejuang angkatan 45 yang kemudian bekerja di Pertamina, Ramadhan berhasil mengangkat isu korupsi yang merajalela di perusahaan milik pemerintah itu. (*)

Sumber: http://www.tribunjabar.co.id/read/artikel/9805/agenda-budaya
Read On 0 comments

Korupsi Mainteater di Ladang Perminus

Minggu, 09 Agustus 2009 | 12:21 WIB


TEMPO Interaktif, BANDUNG - Seisi kantor Perusahaan Minyak Nusantara alias Perminus gempar. Kasus korupsi besar di perusahaan negara itu terbongkar di halaman koran. Rincian angka duit yang ditilap meresahkan karyawan. Mereka pun saling tuding sebagai pembocor.

Hanya Kahar, pejabat dibawah Direktur Utama Perminus, yang tenang. Baginya, berita korupsi itu tak ada pengaruhnya buat rakyat. "Bodoh betul sih wartawan kita ini," katanya, "Jangankan wartawan, hakim dan jaksa sekalipun bisa saya suap. Di sini, uang yang berkuasa!"

Monolog itu membuka lakon Ladang Perminus yang dipentaskan kelompok mainteater di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Bandung. Sutradara Wawan Sofwan dan FX. Rudy Gunawan, penulis naskah, mengadaptasinya dari novel berjudul sama karangan almarhum Ramadhan KH. Hampir tiap hari, pertunjukan tanpa tiket itu dimainkan dua kali selama 6-8 Agustus. Siang untuk kalangan pelajar dan malamnya untuk umum.

Panggung gedung yang cukup luas, ditinggikan kira-kira sejengkal orang dewasa sebagai pentas utama. Di situ, perancang panggung Joedith Tjhristianto membaginya dalam tiga set ruang yang digunakan silih berganti. Dua di depan saling bersebelahan, lebih sering digunakan untuk ruang kerja karyawan dan atasan. Sisa tempat di belakangnya yang lebih luas saat tirai hitam dibuka, kerap dipakai sebagai ruang keluarga atau kumpul-kumpul.

Sebagai penanda ruang, tiga kayu bujur sangkar berukuran masing-masing sekitar 25 meter persegi membingkai langit-langitnya. Tiap lampu padam yang menandakan pergantian adegan, tiga orang kru bergegas mengganti, menggeser, atau menyiapkan properti baru dalam kegelapan panggung.

Menyesuaikan latar cerita di era 70-80-an seperti kostum yang dipakai para pemain, satu set kursi empuk rumahan berkulit hijau model lama diusung ke atas panggung. Namun pemakaian meja dan kursi kayu di ruang kerja agaknya terlihat kurang pas. Bagi sebuah perusahaan kelas kakap, peralatan sederhana itu tentu terlihat janggal.

Ladang Perminus berkisah tentang Hidayat, seorang manajer di Perminus. Bekas pejuang kemerdekaan itu digambarkan sebagai sosok yang cerdas, jujur, idealis, dan setia menuruti kata hati. Pemilihan Wawan Sofwan untuk memainkan karakter tokoh utama itu terasa pas. Berperan alami sepanjang pementasan, komandan kelompok teater yang berdiri pada 1994 itu tampil prima. Meminjam istilah penilaian anggaran oleh Badan Pemeriksaan Keuangan, ia bermain 'wajar tanpa pengecualian'.

Selama bekerja, Hidayat yang sukses menjaring klien beberapa kali ditipu atasan dan dimanfaatkan untuk korupsi. "Dia itu pintar tapi bodoh," kata Kahar, atasannya yang diperankan tak kalah apik oleh Fajar Emmillianus. Dia menghidupkan karakter bos poligami yang berkuasa di kantor tapi takluk di depan istri.

Tahu ada korupsi, Hidayat memprotes Kahar dan mengancam akan membeberkan perbuatannya ke pers. Kahar tak kalah gertak. Dia lalu mengedarkan foto mesra Hidayat dengan seorang pramugari di sebuah kamar hotel saat melobi klien di Singapura.

Panglima tentara yang melihat foto syur itu lantas menarik dukungannya dalam pencalonan Hidayat sebagai calon Gubernur Jawa Barat. Pupus sudah peluangnya. Tapi, sebelum skandal seks itu menjadi santapan publik, Hidayat bertindak cepat mewujudkan ancamannya.

Dalam koran yang dibawa istrinya sambil marah, nama Kahar akhirnya benar-benar muncul sebagai tersangka kasus korupsi di Perminus. Jantungnya seperti diremas. Tak lama, Kahar dikabarkan mati. Pemerintah berencana memakamkan penyandang bintang jasa gerilya itu di taman makam pahlawan dibalut upacara kenegaraan.

Hidayat kecewa. "Di negeri ini, hanya di negeri ini, seorang koruptor bisa menjadi pahlawan," teriaknya di ujung pertunjukan.

Seperti itu juga barangkali yang dirasakan Ramadhan Karta Hadimadja (KH) saat membuat novel tersebut. Lelaki kelahiran Bandung itu telah berpulang tepat di hari ulang tahunnya ke-79 di Cape Town, Afrika Selatan, pada 2006. Dia pernah dibui 16 hari di penjara Kebon Waru, Bandung, pada 1965 lantaran difitnah.

Bersama ayah pemusik Bimbo, Dajat Hardjakusumah, keduanya dilaporkan sebagai pendukung partai komunis setelah bertemu pimpinan persatuan wartawan yang saat itu dianggap golongan kiri. Selain itu, dia berhenti sebagai wartawan kantor berita Antara setelah bekerja 13 tahun gara-gara tak tahan melihat korupsi yang merajelela.

Pertunjukan yang berjalan selama dua jam itu, tiga perempatnya dihabiskan untuk menyoroti kehidupan tokoh utama dalam keluarga dan di jam kerja. Lika-liku korupsi di zaman itu pun terasa agak basi untuk konteks korupsi saat ini yang sudah begitu canggih nan rumit. Kesan datar dan membosankan tak terhindarkan.

Untungnya ada penyegar suasana lewat tokoh Yu, kurir seorang cukong bernama Mr. Tong. Diperankan Ku Moh. Yusri Ku Abd. Rahman, mahasiswa asal Malaysia yang tengah magang di mainteater itu cukup fasih berdialek Cina Melayu. Aktingnya pun tak canggung.

Mainteater menyiapkan pementasan itu untuk kampanye anti-korupsi yang ikut digalang sejumlah lembaga swadaya masyarakat seperti ICW, Praxis, Walhi, dan Perkumpulan Seni Indonesia. Lakon yang sama rencananya akan dimainkan di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, 12-13 Agustus mendatang. Khusus kalangan penonton pelajar, panitia mengajak mereka untuk ikut dalam lomba penulisan opini anti-korupsi.

ANWAR SISWADI

Sumber: http://www.tempointeraktif.com/hg/panggung/2009/08/09/brk,20090809-191600,id.html
Read On 0 comments

Terima Kasih Bandung

Setelah rangkaian 5 pementasan selama 3 hari mulai tanggal 6 hingga 8 Agustus 2009 lalu di Bandung, penyelenggara merasa puas terhadap animo penonton di bandung. Dalam hitungan kasar tercatat paling tidak lebih dari 2100 penonton hadir dan mayoritas adalah pelajar. Ini adalah satu kebanggaan di mana perjuangan anti korupsi masih terus mendapatkan dukungan dari banyak pihak.

Keterlibatan pelajar dalam diskusi untuk menyikapi makna dari pementasan juga sangat menggembirakan. Pertanyaan yang diajukan terkadang sudah seperti ahli-ahli hukum yang perlu mendapatkan penjelasan detail dan meyakinkan. Ini bukti bahwa pelajar tidak bodoh dan abai terhadap kondisi yang terjadi di masyarakatnya.

Seluruh anggota tim Ladang Perminus patut mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Bandung yang telah hadir dan ikut mengapresiasi pertunjukan tersebut.

Terima kasih Bandung.
Read On 0 comments

Pentas Terakhir Bandung

Menakjubkan pelajar Bandung. Meski gedung sudah tak mampu menampung audiens, namun pelajar Bandung yang terdiri dari siswa SMP dan SMA memaksa masuk untuk menonton Ladang Perminus. Bahkan ada sebagian yang menonton di ruang operator karena gedung sudah sesak oleh pelajar. Jarak antara panggung dan penonton hanya satu meter dan lorong-koridor jalan pun dipenuhi pelajar yang ingin menyaksikan pementasan Ladang Perminus. Penghitungan total untuk pelajar di hari Sabtu ini mencapai hampir 600 penonton.
Read On 0 comments

Pentas Bandung
















Antusiasme pelajar Bandung dalam mengapresiasi pementasan Ladang Perminus tak hanya dari segi tontonan visual saja. Sesi diskusi diikuti hingga petang menjelang pukul 18.00 WIB. Hari pertama pentas siang untuk pelajar, berhasil membuat tim hilir mudik mengatur penempatan tempat duduk. Ekspektasi penonton pelajar pada pentas pertama melebihi dari kapasitas kursi. Sebagian duduk lesehan di lantai bagian depan. Namun hal itu tak menyurutkan apresiasi pelajar Bandung untuk tetap menyaksikan pementasan dan mengikuti sesi diskusi hingga akhir.

Pentas ketiga siang hari untuk pelajar, ekspektasi penonton tetap tinggi. Semua kursi yang tersedia terisi sepenuhnya. Bahkan guru pendamping pun terpaksa harus berdiri menyaksikan pementasan selama dua jam.
Read On 0 comments

Pentas Ladang Perminus:Koruptor Menjadi Pahlawan?

Prakarsa Rakyat, Bandung – Pementasan hari perdana Ladang Perminus di kota Bandung mendapat sambutan hangat dari warga kota berjuluk “Paris van Java” ini. Begitu banyaknya penonton yang datang, membuat kursi-kursi di Gedung Rumentang Siang terisi penuh. Bahkan para penikmat seni yang sebagian besar para pelajar ini merelakan berlesehan di lantai dekat panggung.

Daya tampung gedung yang hanya menyediakan kursi untuk 340 orang, tidak dapat memuat 600 orang yang datang ke pertunjukan ini. Tercatat 193 orang pelajar putri di antara rombongan para pelajar sekolah yang datang ke acara ber-tagline “Di negeri ini, hanya di negeri ini, seorang koruptor bisa menjadi pahlawan.”

Para pelajar yang terdiri dari siswa SMP dan SMA ini menyaksikan pementasan yang diadaptasi dari novel Ramadhan KH. Bercerita tentang seorang pekerja jujur yang bekerja di perusahaan minyak bernama Perusahaan Minyak Nusantara (Perminus). Korupsi yang menggurita di kantornya menjadi tantangan bagi hidupnya. Isu korupsi yang dikemas ke dalam seni panggung ini sangat cocok untuk juga ditonton para pejabat negeri ini yang banyak terjerat kasus korupsi.

Ruangan yang penuh sesak dengan udara pengap tidak membuat para pelajar beringsut dari tempat duduknya. Keringat yang bercucuran tidak dirasakannya. Begitu pula antusias ratusan pasang mata tidak lepas mengikuti lakon demi lakon dalam pentas di siang itu.

Dalam setiap adegan yang dibawakan oleh para pemain berhasil memancing penonton untuk ikut serta berdialog dengan para pemain. Interaksi terjadi antara mereka yang berada di atas panggung dengan yang ada di luar panggung. Terutama ketika tokoh koruptor muncul, selalu mengundang riuh dari penonton. Adanya komunikasi antara pemain dan penonton menjadikan pementasan ini menjadi lebih hidup.

Pentas teater yang diusung bersama oleh Indonesia Corruption Watch, Praxis, Perkumpulan Seni Indonesia, Mainteater dan Walhi rencananya akan digelar selama 6 – 8 Agustus di kota Bandung. Sang Produser, Andi K Yuwono mengharapkan antusiasme masyarakat tidak surut hingga dua hari ke depan untuk menyaksikan pentas Ladang Perminus.
Read On 0 comments

Pertunjukan Teater "Ladang Perminus"




2009-08-06 09:41:42


VoiceofBandung.Com,- Kelompok Main Teater Bandung, menggelar pementasan drama dalam lakon ”Ladang Perminus”, sebuah naskah adaptasi dari novel yang sama ke atas panggung.
Pergelaran ini berlangsung Kamis dan Jumat (6-7 Agustus 2009), di Gedung Kesenian Rumentang Siang Jl.Baranang Siang Nomor 1 Bandung.

Naskah ini berkisah tentang medium perlawanan terhadap korupsi, kejahatan lingkungan dan HAM. Ladang Perminus menjadi lakon yang akan dipentaskan di dua kota (Bandung dan Jakarta),sebagai medium penyadaran terhadap pentingnya perawatan perlawanan terhadap korupsi, pelanggaran HAM dan penjahatan lingkungan.


Sumber: http://voiceofbandung.com/vob.php?type=9&idnews=488
Read On 0 comments

Foto Gladi Resik
































Read On 0 comments

Press Conference





Press Conference pementasan Bandung, dilakukan di Lobi Gedung Kesenian Rumentang Siang. Conference dimulai pukul 14.25 WIB. Sebagai pembicara dalam conference: Sely Martini (ICW), Andi Yuwono (Praxis), Pius Ginting (Walhi), Wawan Sofwan (mainteater), sedangkan moderator oleh Rahardja Waluya Jati.

Conference tak hanya diisi dengan penjelasan mengenai pementasan Ladang Perminus, pun tak hanya berupa tanya jawab antara pembicara dan wartawan, namun dalam conference ditampilkan 4 adegan pementasan.
Read On 0 comments

Perminus di HISKI

Ladang Perminus masuik dalam agenda Konferensi HISKI. Willy Pramudya sebagai pembicara mewakili PSI dan tim produksi Ladang Perminus. Fokus pembicaraan pada fungsi sosil sastra dalam menumbuhkan rasa kebangsaan, dalam hal ini penguatan dalam isu antikorupsi, penjahatan lingkungan, dan pelanggaran HAM.





Read On 0 comments

Ladang Perminus

5 Agustus 2009 - 12:55 WIB

Fx Rudy Gunawan

“Di negeri ini, hanya di negeri ini, koruptor bisa menjadi pahlawan!”
Dalam situasi politik yang masih tetap tak bisa menjamin kepastian penegakan keadilan dan kebenaran, berbagai alat negara untuk penegakan pemerintahan yang bersih dan demokratis bisa saja dijungkalkan atau bahkan “dibunuh”, seperti yang kini tengah terjadi pada Komisi Pemberantasan Korupsi. Atau sebut juga misalnya Komisi Pemilihan Umum yang tengah disorot, dicaci, dan dimaki terkait perhelatan demokrasi kita. Lembaga-lembaga negara yang lain pun (Komisi Penyiaran Indonesia, Komnas HAM, Mahkamah Konstitusi, dan lain-lain) tak luput dari situasi yang sama pelik. Padahal persoalan-persoalan yang menjadi tugas dan kewenangan lembaga-lembaga seperti KPK sangatlah besar dan mendasar untuk menata kehidupan yang lebih baik di masa datang. Korupsi, seperti semua orang memahaminya, adalah musuh besar bagi bangsa yang ingin maju dan memiliki kehidupan sejahtera bagi seluruh rakyatnya. Kita tak bisa berpangku tangan dan menerima nasib saja. Apalagi menerimanya sebagai suatu kewajaran.

Pemberantasan korupsi seharusnya menjadi tugas dan tanggung jawab bersama yang bisa menyatukan berbagai perbedaan dari semua komponen masyarakat. Korban korupsi tak membedakan golongan, suku, agama, status sosial, ataupun ideologi tertentu. Rakyatlah yang menjadi korban secara keseluruhan. Rakyat secara keseluruhan adalah bangsa. Karena itulah, sebuah pemerintahan yang korup pasti menghasilkan bangsa yang tertinggal dan miskin. Sayangnya kita kerap membiarkan korupsi merajalela di hadapan kita tanpa berbuat apa-apa. Hanya segelintir kelompok masyarakat, seperti Indonesia Corruption Watch, yang bergerak serius melakukan gerakan perlawanan terhadap korupsi. Tentu saja hal ini menjadi sangat berat jika komponen masyarakat lainnya diam dan hanya berharap ICW atau KPK berjuang mati-matian melawan korupsi. Dukungan kita baru berikan ketika nasib KPK terancam, entah itu dari “Cicak” ataupun elemen masyarakat lainnya. Seharusnya kita bisa memberikan dukungan setiap saat sesuai kapasitas dan bidang kita masing-masing.

Keadaan ini yang kemudian mendorong Perkumpulan Seni Indonesia, Praxis, ICW, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, dan Main Teater melakukan pendekatan berbeda untuk mengampanyekan gerakan melawan korupsi melalui pementasan teater. Tujuan utama gerakan ini adalah untuk mengajak seluruh komponen masyarakat terlibat dalam gerakan melawan korupsi. Berbagai cara dan metode yang sudah dilakukan selama ini umumnya melalui jalur hukum, advokasi, atau kampanye media secara langsung. Jalur pendidikan pun sudah mulai dirintis melalui beberapa perguruan tinggi yang memiliki program khusus tentang kajian korupsi seperti Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, dan Universitas Paramadina. Selain itu, korupsi yang sudah membudaya juga harus dilawan dengan membangun budaya antikorupsi. Pentas Ladang Perminus, diangkat dari novel karya Ramadhan KH tentang korupsi di sebuah perusahaan minyak milik negara, merupakan bagian dari rangkaian gerakan kebudayaan yang diharapkan bisa meluas dan terus menguat secara perlahan namun pasti. Pentas teater ini digelar di Bandung (Gedung Rumentang Siang, 6, 7, dan 8 Agustus pukul 14.00 dan 20.00) dan Jakarta (Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, 12 dan13 Agustus pukul 14.00 dan 20.00).

Sasaran utama penonton adalah pelajar SMA. Sebab, merekalah yang bisa mengubah keadaan di masa datang. Merekalah yang bisa menjadi generasi antikorupsi yang kuat menghadang badai keserakahan yang selalu melanda jiwa manusia. Merekalah yang bisa mengatakan tidak ada ampun untuk koruptor. Tak peduli apakah itu corruption by need atau corruption by greed. Sebab, apa pun motifnya, korupsi tak bisa dibenarkan dan ditoleransi. Dengan tagline “di negeri ini, hanya di negeri ini, seorang koruptor bisa menjadi pahlawan!” sebagaimana yang benar terjadi dalam novel Ladang Perminus, diharapkan pementasan ini menggugah bergulirnya gerakan melawan korupsi di Indonesia. Katakan “cukup!” dan mari kita lawan korupsi bersama-sama. Jangan sampai terlalu banyak koruptor justru menjadi pahlawan di negeri kita. (*)

Sumber: http://www.vhrmedia.com/Ladang-Perminus-sikap1967.html
Read On 0 comments

SIARAN PERS PENTAS “LADANG PERMINUS”

GERAKAN KEBUDAYAAN UNTUK MELAWAN KORUPSI

“Di negeri ini, hanya di negeri ini, koruptor bisa menjadi pahlawan!”

Dalam situasi politik yang masih tetap tak bisa menjamin kepastian penegakan keadilan dan kebenaran, berbagai alat negara untuk menegakkan pemerintahan yang bersih dan demokratis bisa saja dijungkalkan, dilucuti, atau bahkan “dibunuh” seperti yang kini tengah terjadi pada KPK. Lembaga-lembaga negara yang lain pun tak luput dari situasi yang sama padahal persoalan-persoalan yang menjadi tugas dan kewenangan lembaga-lembaga seperti KPK sangatlah besar dan mendasar untuk menata kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Korupsi, seperti semua orang memahaminya, adalah musuh besar bagi sebuah bangsa yang ingin maju dan memiliki kehidupan sejahtera bagi seluruh rakyatnya.

Pemberantasan korupsi seharusnya menjadi sebuah tugas dan tanggungjawab bersama yang bisa menyatukan berbagai perbedaan dari semua komponen masyarakat. Korban korupsi tak membedakan golongan, suku, agama, status sosial, ataupun ideologi tertentu. Rakyatlah yang menjadi korban secara keseluruhan. Rakyat secara keseluruhan adalah bangsa. Karena itulah, sebuah pemerintahan yang korup pasti menghasilkan bangsa yang tertinggal dan miskin. Sayangnya, kita kerap membiarkan korupsi merajalela di hadapan kita tanpa berbuat apa-apa. Hanya segelintir kelompok masyarakat, seperti ICW misalnya, yang bergerak secara serius mencoba melakukan gerakan perlawanan terhadap korupsi. Tentu saja hal ini menjadi sangat berat jika komponen masyarakat lainnya diam saja dan hanya berharap ICW atau KPK berjuang mati-matian melawan korupsi.

Keadaan semacam inilah yang menggerakkan PSI (Perkumpulan Seni Indonesia), Praxis, ICW, Walhi, dan Mainteater melakukan sebuah pendekatan yang berbeda untuk mengkampanyekan gerakan melawan korupsi melalui media kebudayaan. Pertimbangan utama yang mendasari gerakan ini adalah adanya kebutuhan mendesak untuk mengajak seluruh komponen masyarakat terlibat dalam gerakan melawan korupsi. Berbagai cara dan metode yang sudah dilakukan selama ini, umumnya melalui jalur hukum, advokasi, atau kampanye media secara langsung. Jalur pendidikan pun sudah mulai dirintis melalui beberapa perguruan tinggi yang memiliki program khusus tentang kajian korupsi. Selain itu, korupsi yang sudah membudaya juga harus dilawan dengan membangun budaya anti-korupsi. Pentas Ladang Perminus yang diangkat dari novel karya Ramadhan KH tentang korupsi di sebuah perusahaan minyak milik Negara, merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang diharapkan bisa menjadi sebuah gerakan kebudayaan yang meluas dan terus menguat secara perlahan namun pasti.

Dengan tagline “di negeri ini, hanya di negeri ini, koruptor bisa menjadi pahlawan!” diharapkan pementasan Ladang Perminus bisa menggugah bergulirnya gerakan melawan korupsi di Indonesia. Katakan “cukup!” dan mari kita lawan korupsi bersama-sama.


Agustus 2009,

ICW - Praxis - PSI - Mainteater - WALHI
Read On 0 comments

Undangan Pementasan di Jakarta Hampir Habis

Meskipun masih sekitar seminggu dari waktu pementasan di Jakarta, nampaknya animo penonton untuk menyaksikan pementasan Ladang Perminus sangat tinggi. Hal ini terlihat dari banyaknya calon penonton yang meminta undangan ke penyelenggara. Khusus untuk pementasan tanggal 12 Agustus 2009 pukul 20.00 hanya tersisa sedikit undangan dan mayoritas adalah balkon.

Apabila ada yang berniat meminta undangan mohon segera menghubungi Lanjar di 021 3156907, 3156908.
Read On 0 comments

Jadwal Konferensi Pers

Jadwal Konferensi Pers Pementasan Ladang Perminus

Bandung
Tanggal 5 Agustus 2009
Pukul 14.00
Pembicara: KPK, ICW, PSI, Mainteater, WALHI
GK Rumentang Siang
Jl. Baranang Siang No.1, Kosambi, Bandung
informasi: Zhu Khie Thian 0819 10334417, Rahardja Waluya Jati 0818854099, Andi K. Yuwono 0811182301

Jakarta
Tanggal 11 Agustus 2009
Pukul 14.00
Pembicara: KPK, ICW, PSI, Mainteater, WALHI
Graha Bhakti Budaya - TIM
informasi: Rahardja Waluya Jati 0818854099, Agung Yudha 0811870064, Andi K. Yuwono 0811182301
Read On 0 comments

Ladang Perminus di Bandung dan Jakarta

NOVEL Ladang Perminus karya Ramadhan KH diangkat dalam lakon teater oleh kelompok Mainteater pada bulan Agustus mendatang di dua kota. Di Bandung akan digelar tiga hari, pada 6, 7, dan 8 Agustus pukul 14.00 siang dan 20.00 malam. Di Jakarta dipentaskan pada 12 dan 13 Agustus di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM) Jalan Cikini Raya, juga pukul 14.00 dan 20.00. Pentas tersebut dipersembahkan dengan gratis.

Lakon Ladang Perminus ini disutradarai oleh aktor kawakan Wawan Sofwan. Para pemain Nandi Riffandi sebagai Hidayat, Fajar Emmillianus sebagai Kahar, dan beberapa pemain lain. Pementasan ini didukung Indonesian Corruption Watch (ICW), Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), dan beberapa lembaga swadaya masyarakat lain yang peduli pada pemberantasan korupsi.

Ladang Perminus adalah novel yang mengangkat persoalan korupsi di Pertamina era 1970-an. Dengan menampilkan tokoh Hidayat, seorang pejuang angkatan 45 yang kemudian bekerja di Pertamina, Ramadhan berhasil mengangkat isu korupsi yang merajalela di perusahaan milik pemerintah itu. (*)

Sumber: http://www.tribunjabar.co.id/read/artikel/9805/agenda-budaya
Read On 0 comments

Publikasi


Read On 0 comments

Dilema Minyak


Mengamati sejarah perkembangan sumber energi manusia, maka terdapat urutan dari kayu, beralih ke batu bara, selanjutnya minyak dan gas menjadi sumber energi. Peralihan tersebut karena rangakaian energi yang terakhir lebih tidak merusak lingkungan. Penggunaan kayu sebagai sumber energi utama dan massal akan lebih buruk dari penggunaan batu-bara, dan batu bara lebih buruk dari minyak dan seterusnya.

Kini mayoritas dunia mengandalkan minyak sebagai sumber energi utama. Perebutan minyak telah menjadi sumber peperangan (yang terbaru diantaranya adalah invasi Amerika terhadap Irak dan Afganistan). Juga kerusakan lingkungan terjadi akibat eksloitasi minyak. Banyak kasus kerusakan lingkungan berkaitan dengan eksploitasi minyak ini, seperti pencemaran laut di daerah Balikpapan, Indramayu Jawa Barat. Dampak buruk ini juga terjadi di negara lain tumpahnya minyak dari tanker Exxon Valdez sebanyak 40 juta liter pada tahun 1989 ke laut Alaska. Dan bila eksploitasi minyak berada dibawah pemerintahan militeristik dan otoriter, sebagaimana Pertamina pada masa pemerintahan Orde Baru, dia menjadi lahan korupsi bagi segelintir elit penguasa negeri.

Karena dampak energi fosil telah melampaui daya dukung alam, maka dewasa ini beberapa negara telah mau beranjak meninggalkan energi fosil (diantaranya minyak) sebagai sumber energi. Salah satu diantaranya, tawaran dari Pemerintahan Ekuador yang memilih tidak mengeksploitasi minyak mereka yang terdapat di kawasan hutan Yanusi, dengan pertimbangan resiko kerusakan lingkunga, pengusiran masyarakat adat /lokal


Minyak dan Kerusakan Lingkungan

Minyak sebagai salah satu energi fosil juga berkontribusi mengeluarkan gas rumah kaca yang mengakibatkan pemanasan global dan perubahan iklim. Dampak tersebut mulai terasa saat ini, seperti peningkatan suhu hingga mencairnya es di daerah kutup, musim kemarau dan hujan yang makin ekstrim, energi badai dan puting beliung yang makin meningkat, dan lain-lain.

Konsensus para ilmuwan menyatakan emisi gas rumah kaca harus dikurangi 60-80 persen dari tingkat emisi tahun 1990 dalam beberapa dekade singkat ke depan. Sementara itu, Kyoto Protokol hanya membuat target pengurangan emisi sebanyak 5,2 persen dibawah tahun 1990 untuk masa tahun 2008-2012. Sebuah pengurangan sebenarnya tidak berarti, namun masih juga negera penghasil gas rumah kaca terbesar seperti AS menolak mengikuti Protokol Kyoto ini pada masa pemerintahan Bush.

Mengatasi dampak perubahan iklim dengan cara mengurangi konsumsi minyak melalui mekanisme penaikan harga (pencabutan subsidi) bukan jalan keluar yang adil. Akses rakyat, khususnya mayoritas kelompok miskin terhadap energi, secara moral dan prinsip keadilan dan demokrasi atas akses energi, tidak boleh dipersulit.


Privatisasi Minyak: Menguntungkan Korporasi, Merugikan Rakyat Miskin

Untuk itu, keluar dari energi fosil (salah satunya minyak) harus melalui jalan yang adil, tidak mengorbankan mayoritas rakyat miskin.

Perusahaan-perusahaan besar dan negara maju seperti Amerika Serikat mendorong agar negeri berkembang melakukan privatisasi (swastanisasi) pengelolaan minyak dan gas. Privatisasi perusahan minyak dan gas juga bukan jalan keluar ketergantungan terhadap minyak. Hal tersebut hanya menyebabkan harga minyak semakin mahal dan menjadi konsumsi kalangan segelitir elit. Sebagaimana rekomendasi sebuah studi yang disponsori oleh James Baker III Institute for Public Policy of Rice University dan Council on Foregin Relation (sebuah lembaga kajian hubungan luar negeri di Amerika Serikat yang berpengaruh terahdap kebijakan pemerintah AS) pada tahun 2001 menyatakan bahwa minyak mengalami ”pasokan yang sedikit” karena ”kurangnya investasi” dalam produksi baru dan ”negara-negara [penghasil minyak sering mengalami] goncangan [politik]”. Kelebihan kapasitas telah lenyap dan hampir tidak ada lagi karena negara produsen minyak sebagaian memperuntukkan minyaknya untuk proyek-proyek sosial daripada investasi pengembangan produksi kapasitas baru . Dengan demikian pandangan lembaga studi yang dekat dengan kepentingan perusahaan minyak internasional ini bahwa keuntungan minyak tidak boleh digunakan untuk peningkatan mutu pendidikan, kesehatan, sebagaimana saat ini dilakukan negara seperti Venezuela.

Untuk itu, lembaga tersebut mengeluarkan rekomendasinya pada tahun 2007 ”agar semua perusahaan minyak nasional [yang dimiliki negara] diprivatisasi, investor asing diperlakukan setara dengan perusahaan minyak lokal, dan OPEC sebaiknya dibubarkan, yang akan memungkinkan terwujudnya perdagangan bebas dan pasar yang kompetitif untuk menyediakan energi yang dibutuhkan dunia dengan harga yang ditentukan oleh pasar.”

Celakanya, kemauan kepentingan korporasi besar dari negeri maju untuk memprivatisasi/meliberalisasi minyak telah beresonansi di Indonesia. Hal tersebut tampak dengan dikeluarkannya UU Minyak dan Gas pada tahun 2001. UU Migas No. 22/2001 mendorong penghapusan subsidi BBM dan melepaskan harga BBM sesuai dengan harga pasar internasional. Proses pembuatan undang-undang tersebut dikendalikan oleh kekuatan yang berkaitan erat dengan kepentingan korporasi, yakni USAID (United States Agency for International Development), sebagaimana pengakuan mereka “USAID has been the primary bilateral donor working on energy sector reform.…” Khusus mengenai penyusunan UU Migas, USAID secara terbuka menyatakan, “The ADB and USAID worked together on drafting a new oil and gas law in 2000”.


Solusi: Energi Terbarukan Berbasikan Komunitas

Pengembangan energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, geothermal skala kecil, mikro hidro adalah beberapa diantaranya yang mendorong pengelolaan energi menjadi lebih terdesentralisasi ke komunitas, dan tidak merusak lingkungan dan tidak terjadi penyingkiran terhadap masyarakat yang berada di sekitar sumber energi, sebagaimana terjadi dengan pertambangan minyak.

Beberapa inisiatif untuk pengembangan energi terbarukan telah ada ada di Indonesia, seperti mikro hidro di Lampung dan Kalimantan Timur diantaranya, Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Gunung Kidul. Kebijakan tersebut harus didukung dan dipermudah oleh pemerintah Indonesia. Dan negara maju sepantasnya memberikan hibah teknologi untuk pengembangan energi terbarukan ke negara dunia berkembang (bukan dalam bentuk pengalihan pembayaran hutang negara dunia). Hibah tersebut sebagai wujud pembayaran hutang ekologi negara maju yang telah berkontribusi lebih besar dalam pengerusakan kerusakan lingkungan hidup dunia, juga kerusakan lingkungan negara berkembang. Tugas kita mendesak pemerintah mengembangkan energi terbarukan, dan menghentikan ketergantungan terhadap energi fosil dengan cara adil, tidak memberatkan negara miskin dan rakyat miskin. Privatisasi adalah kepentingan korporasi.


Pius Ginting
Pengkampanye Tambang WALHI
Read On 0 comments

ICW dan gerakan antikorupsi di Indonesia

Perjuangan ICW selama kurang lebih 10 tahun (1998-2009) semenjak keberadaannya di masa reformasi secara langsung maupun tidak langsung telah mempengaruhi situasi sosial-ekonomi dan politik di lingkungan makro kenegaraan. Isu korupsi telah menjadi isu politik yang bisa menentukan -langsung maupun tidak langsung- jatuh-bangunnya kekuasaan, baik dalam kaitannya dengan jabatan maupun kekuasaan politik. Demikian halnya, tuntutan publik terhadap pertanggungjawaban penyelenggara negara (pemerintahan) kian kuat disuarakan melalui beberapa agenda, baik dalam ranah anggaran publik, pelayanan publik maupun kebijakan publik lainnya.

Dalam konteks penegakan hukum, desakan dan kampanye yang terus menerus dari ICW dan organisasi antikorupsi lainnya telah melahirkan sebuah gambaran lain dari pada periode sebelumnya, dimana pejabat negara, baik di tingkat eksekutif maupun legislatif bisa diajukan ke pengadilan karena melakukan korupsi. Bukan hanya di tingkat daerah, akan tetapi kecenderungan ini juga menyentuh wilayah kekuasaan pusat seperti di parlemen.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), khususnya pimpinan KPK jilid II yang lahir karena tuntutan akan penegakan hukum yang independen, tidak pandang bulu dan berani telah menjadi harapan baru bagi masyarakat luas. Bukan hanya karena mandulnya kinerja penegakan hukum Kejaksaan dan Kepolisian, akan tetapi pada isu integritas penegakan hukum, KPK lebih bisa dipertanggungjawabkan. Tak heran jika laporan masyarakat kepada KPK atas dugaan tindak pidana korupsi di berbagai daerah juga meningkat dari waktu ke waktu.

Pemilu 2009 sebagai ajang regenerasi kekuasaan politik juga telah dipengaruhi secara signifikan oleh isu yang berkaitan dengan korupsi. Tertangkapnya beberapa anggota DPR RI menjelang pemilu 2009 telah meningkatkan tekanan publik terhadap kandidat maupun partai politik. Kampanye “Tidak Pilih Politikus Busuk” yang didengungkan oleh ICW dan NGO pada Pemilu 2009 telah disambut oleh kelompok lainnya, seperti kelompok mahasiswa, seniman, buruh dan bahkan politisi sendiri yang membutuhkan legitimasi politik untuk berkuasa ditengah-tengah iklim kompetisi politik yang lebih ketat karena mekanisme suara terbanyak.

Berkaca pada pemilu lokal (Pilkada), kekuatan uang dalam menentukan hasil pemilu nyatanya juga perlu dibaca ulang. Hal ini karena tidak semua incumbent yang menjadi calon kepala daerah terpilih lagi. Padahal jika diasumsikan mereka adalah penguasa sumber daya lokal, maka seharusnya mereka bisa menggunakan sumber daya tersebut untuk mempengaruhi pemilih. Namun faktanya tidak demikian. Ini artinya, ada pergeseran pemikiran di tingkat pemilih yang bisa menjadi potensi bagi dorongan perubahan politik ke depan.


Peluang dan Ancaman Gerakan Antikorupsi Kedepan

Dukungan publik yang makin kuat atas agenda gerakan antikorupsi di Indonesia telah memberikan legitimasi sosial atas keberadaan ICW kedepan. Muaknya masyarakat terhadap praktek korupsi yang terus menerus dipertontonkan oleh pejabat negara, baik kalangan eksekutif maupun legislatif menjadikan agenda antikorupsi tertantang untuk dapat menjawab masalah tersebut.

Di berbagai daerah, gerakan antikorupsi telah tumbuh, meskipun dengan berbagai keberagamannya. Strategi dan pendekatan antikorupsi dari satu daerah dengan daerah lainnya pun nampak. Meskipun harus diakui bahwa sebagian besarnya lebih banyak fokus pada isu penegakan hukum. Berbagai dorongan antikorupsi yang telah tumbuh memang masih didominasi oleh tuntutan penegakan hukum yang lebih kredibel terhadap para pelaku korupsi.

Masyarakat juga kian kuat posisi tawarnya dengan terbitnya berbagai UU yang memihak agenda pemberantasan korupsi. Mulai dari ratifikasi UNCAC PBB, lahirnya UU Perlindungan Saksi dan Korban serta UU Kebebasan Informasi Publik paling sedikit telah memberikan harapan yang lebih besar bagi keterlibatan masyarakat luas secara langsung dalam mengontrol jalannya pemerintahan.

Secara khusus yang harus diwaspadai adalah rendahnya political will anggota DPR untuk segera menyelesaikan RUU Pengadilan Tindak Pidana Korupsi yang deadlinenya pada bulan Desember 2009 sesuai dengan putusan Mahkamah Konstitusi (MK). Pengadilan Tipikor adalah jantungnya penegakan hukum KPK. Jika Pengadilan Tipikor tidak kelar pengesahannya hingga Desember 2009, maka kemungkinan besar KPK tidak akan banyak berguna. Kecuali jika kemudian Pemerintahan baru mengeluarkan Perpu, nasib KPK bisa berbeda.

Tantangan kedepan adalah bagaimana mengkonsolidasikan gerakan antikorupsi yang sudah muncul di berbagai daerah sehingga tidak terpecah-pecah dan memiliki strategi jangka panjang, bukan sekedar penegakan hukum. Karena jika pendekatan antikorupsi hanya sebatas penegakan hukum, akan lahir rasa ftrustasi di tengah situasi dimana lembaga penegak hukum konvensional tidak banyak berubah.

Demikian halnya, bagaimana gerakan antikorupsi di Indonesia dapat mendorong perubahan struktur politik yang lebih memihak kepentingan publik setelah proses hukum terhadap politisi/pejabat di lingkungan tertentu dilakukan. Sekarang ini terkesan penegakan hukum yang dilakukan terhadap Kepala Daerah misalnya tidak mengubah situasi. Artinya, pejabat pengganti dari pejabat sebelumnya yang sudah diproses oleh KPK misalnya memiliki perilaku yang sama, yakni korup.

Ujian lain yang harus dijawab adalah bagaimana gerakan antikorupsi di Indonesia dapat membumikan UU yang telah lahir, seperti UU PSK, UU KIP dan ratifikasi UNCAC. Kekhawatiran yang muncul bahwa UU tersebut sebatas ada, tapi tidak pernah bisa dijalankan. Oleh karenanya, dibutuhkan strategi dan pemikiran untuk menjadikan UU diatas sebagai payung hukum yang fungsional bagi masyarakat dalam menjalankan fungsi kontrolnya terhadap kekuasaan.



Sely Martini

Program Monitoring and Evaluation
Indonesia Corruption Watch
Read On 0 comments

KORUPSI DALAM WACANA HAK ASASI MANUSIA

Civil, political, and cultural rights have little meaning unless there are the economic resources to exercise and enjoy them. Equally, the pursuit and acquisition of material wealth is sterile and self-defeating without political freedoms, the opportunity to develop and express one’s personality and to engage in cultural and other discourses.
(1998 Asian Human Rights Charter, paragraf 2.2.)



Meskipun mendapatkan pengakuan yang luas dan dilengkapi berbagai instrumen internasional, wacana HAM masih saja tertambat di atas kertas. HAM masih saja termarjinalisasi dalam prakteknya, sampai ketika berbagai kelompok aktivis hak asasi manusia mulai menggunakan hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya sebagai “senjata” utama melawan merebaknya fenomena kesenjangan pasca perang dingin, terutama dengan menguatnya rezim ekonomi global belakangan ini. Atas nama pembangunan, masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah dijadikan korban (passive victims) demi kepentingan yang lebih besar: konglomerasi dan negara. Dalam konteks inilah, atas dasar keadilan dan martabat manusia, hak ekonomi sosial budaya memungkinkan masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah menjadikan kebutuhan pokok mereka sebagai sebuah hak yang harus diklaim (rights to claim) ketimbang sumbangan yang didapat karena belas kasihan negara/rezim (charity to receive). Perubahan kesadaran ini menjadi langkah awal sebelum mengambil tindakan.

Perlawanan terhadap korupsi menjadi unsur penting dalam wacana penegakan dan pemenuhan HAM khususnya hak ekonomi sosial dan budaya (Ekosob). Seringkali pemerintah menyatakan tidak ingin masalah korupsi dijadikan bahan politisasi. Pemerintah juga berdalih tidak ingin dituduh melanggar HAM bila terlalu ekstrim dalam memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Kita boleh saja setuju dengan itu. Tetapi tentu kita harus menolak jika pemberantasan korupsi dinilaisejajarkan sebagai pelanggaran HAM. Justru korupsi itu sendiri merupakan bentuk paling nyata dari pelanggaran terhadap HAM.

Instrumen-instrumen HAM internasional paling penting, yaitu Universal Declaration of Human Right (UDHR), The International Covenant on Civil and Political Right (ICCPR) dan The International Covenant on Economic, Social dan Cultural Right (ICESCR), meskipun secara secara implisit, telah mengisyaratkan bahwa korupsi sesungguhnya merupakan suatu bentuk dari pelanggaran HAM Korupsi telah menjadi akar sekaligus muara dari berbagai pelanggaran HAM. Bukan saja pelanggaran hak ekonomi sosial budaya yang merupakan dampak langsung, namun juga pelanggaran atas hak sipil dan politik sebagai dampak tidak langsung.

Pelanggaran atas hak-hak asasi di bidang hak ekonomi sosial budaya terjadi bilamana korupsi terjadi pada kebijakan yang diambil pemerintah yang menyebabkan kerusakan lingkungan, menguntungkan perusahaan besar dan meminggirkan masyarakat adat yang telah menghuni kawasan tersebut turun temurun. Salah satu contoh dari pelanggaran ini adalah impor limbah berbahaya dari Singapura. Bagaimana mungkin limbah berbahaya yang mengancam kelestarian lingkungan hidup (termasuk di dalamnya manusia), bisa masuk ke Indonesia? Penyebabnya tiada lain adalah korupsi yang melibatkan banyak pihak.

Sementara, dampak korupsi terhadap hak sipil dan politik, salah satu contoh yang dapat dikemukakan adalah penyiksaan yang dilakukan oleh aparat TNI menggunakan fasilitas Freeport di Papua. Dengan tuduhan terlibat Organisasi Papua Merdeka, aparat TNI yang mendapat dana "keamanan" dari PT Freeport melakukan penyiksaan terhadap tokoh-tokoh masyarakat yang menentang kehadiran Freeport. Sementara, pelanggaran atas hak kebebasan berekspresi dapat dilihat pada gugatan pencemaran nama baik yang dilakukan terhadap media dan aktivis anti korupsi. Contoh lainnya, pelanggaran hak atas pengadilan yang adil dan penghargaan individu setara di depan hukum dapat kita saksikan pada korupsi di peradilan. Karena korupsi, hakim tidak memutuskan berdasarkan keadilan tetapi justru pada besarnya uang yang diberikan. Akibatnya, banyak koruptor besar yang dibebaskan atau mendapat hukumgan ringan, sementara maling ayam mendapatkan hukuman yang berat.

Lalu, mengapa wacana hak ekonomi sosial dan budaya biasanya menguat pasca rezim otoriterian? Ada beberapa penjelasan yang barangkali bisa dijadikan pembenaran: (1) Karena pada saat rezim otoriter yang diutamakan adalah perjuangan hak sipil dan politik, hak-hak individu, karena hak-hak inilah yang lebih terepresi, sementara kondisi ekonomi relatif lebih terjamin karena terma ekonomi dan pembangunan digunakan sebagai alat legitimasi rezim. Sementara pada masa pasca rezim otoriterian, hak-hak sipil dan politik, serta hak-hak yang bersifat perorangan relatif lebih terakomodasi, paling tidak melalui perbaikan instrumen-instrumen, sehingga “perjuangan” dialihkan pada hak ekonomi sosial budaya, atau hak-hak yang sifatnya kelompok yang tidak lagi “terjamin” seperti saat rezim otoriter berkuasa. (2) secara historis, penguatan hak-hak sipil dan politik atau hak-hak individu memang menjadi generasi pertama dari wacana universal hak asasi manusia. Baru pada generasi kedua hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya terangkat melalui apa yang dikenal sebagai “kritik Timur terhadap Barat” yang dibawa oleh negara-negara blok Timur pada masa perang dingin, dan pada generasi ketiga mulai dikenal adanya istilah hak-hak kelompok (groups rights).

Hak ekonomi sosial dan budaya membutuhkan pemerintah dan aktor-aktor non-negara yang berpengaruh lainnya untuk memastikan masyarakat mempunyai akses pada kebutuhan pokok dan memastikan mekanisme yang demokratik dimana masyarakat bisa menyampaikan pendapat pada pembuatan atau terhadap kebijakan yang mempengaruhi kehidupan mereka. Yang juga dibutuhkan adalah sistem hukum yang memungkinkan aparat negara mempertanggungjawabkan kebijakan pembangunan beserta prioritasnya kepada konstituen mereka, yaitu masyarakat. Ini berarti termasuk melakukan review terhadap legislasi dan praktek administratif; mendorong pendidikan publik dan program informasi; melakukan penyelidikan atas segala pengaduan tentang pelanggaran yang terjadi; serta melakukan dengar pendapat demi tercapainya pemenuhan hak ekonomi dan sosial di seluruh wilayah negara, atau paling tidak di beberapa wilayah atau isu prioritas.

Supaya semua hal di atas bisa berjalan dengan baik, maka demokratisasi harus didorong. Disinilah peran wacana hak ekonomi sosial dan budaya pasca rezim otoriterian selama ini: untuk mendorong percepatan demokratisasi menuju tingkat yang lebih lanjut. Agar transformasi kehidupan bernegara tidak mandeg di tataran awal demokratisasi semata, yang direpresentasikan dengan instrumen dan reorientasi birokrasi, melainkan agar para pembuat kebijakan melaksanakan tugas dan tanggungjawab mereka untuk menjamin hak ekonomi, sosial, dan budaya, serta menyelesaikan dengan adil dan transparan berbagai pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi sebagai sebuah akibat dari kebijakan yang diambil.

Artinya demokrasi menjadi prasyarat. Ketika sebuah rezim berubah dari otoriterian menjadi demokratis, maka parameter yang pertama kali diukur adalah sejauh mana reorientasi peran serta warga negara dalam pembuatan kebijakan terjadi. Dalam tahap inilah, dibutuhkan kontrol terus-menerus kepada rezim yang baru berkuasa untuk tidak mengulangi tindakan atau kebijakan yang dilakukan oleh rezim sebelumnya yang otoriter, tidak hanya berkaitan dengan perlindungan hak sipil dan politik, namun juga dalam hal pemenuhan hak ekonomi, sosial, dan budaya.



Agung Yudhawiranata
Peneliti di Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM)
Read On 0 comments
 

Teater-Perminus | Author's blog | Powered By Blogspot | © Copyright  2009